Monday, February 29, 2016

Musim hujan jangan jadi mati gaya kalo punya barang-barang bekas ini

Beberapa hari terakhir hujan turun sepanjang hari. Buat yang tidak punya kerjaan terikat secara rutin waktu, biasanya akan mati gaya dirumah. Mau keluar hujan, mau beres-beres rumah hawa dingin membuat malas, ujungnya ngemil sambil seruput teh panas jadi pilihan atau tarik selimut lebih sering. Hohoo tidak produktif sekali waktu kita ya. 

Untuk mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat, bisa juga kita melihat-lihat barang dirumah yang sudah lama tidak dipakai atau sebagian sudah dipakai. Seperti halnya hari ini, saya menemukan banyak kertas di lemari buku. Ternyata buku tulis yang sudah tidak dipakai banyak yang masih kosong. Ada juga kertas bergambar bekas kalender. Dulu sih karena gambarnya menarik, sayang dibuang jadilah teronggok di lemari buku. Atau ada lagi kertas bekas label yang cukup banyak tersimpan. Melihat kertas-kertas itu jadilah ide untuk memanfaatkannya. Begitulah, dari kertas-kertas itu saya berkreasi. 

Barang temuan:
- buku tulis yang sudah tidak dipakai tapi masih ada lembaran yang belum diisi,
- cover kalender,
- kertas bekas label,
-kertas putih licin bekas sekat barang,
- papan palstik bekas alas barang,
- tali rafia,

Barang pendukung:
-gunting
-lakban
-pembolong kertas

Hasil 1: buku tulis baru
Kumpulkan kertas dari buku tulis yang belum terisi. Bolongkan sisi kiri kertas secara berjajar menggunakan pembolong kertas. Lakukan kepada semua kertas yang sudah disiapkan. Perhatikan posisi bolongan antara kertas yang satu dengan yang lain harus sama. Tumpuk menjadi satu, lalu jalin menggunakan tali rafia menggunakan tusuk feston (hehehe klo tidak salah).


Hasil 2: notes
Kertas bekas label yang berwarna kuning ditumpuk menjadi satu. Lubangi semua kertas tersebut. Posisikan bagian belakangnya (yg kasar) disebelah depan, agar bisa digunakan untuk menulis (bagian depan kertas label biasanya licin&tidak bisa digunakan menulis). Simpan kertas bergambar bekas kalender dibagian paling depan dan belakang, jadikan sebagai cover notes yang akan kita buat. Jalin menggunakan tali rafia.


Hasil 3: papan tulis mini
Tumpuk papan plastik dengan kertas putih licin. Rekatkan menggunakan lakban. Lubangi bagian atasnya untuk diberi tali rafia sebagai gantungan.


Begitulah, barang-barang yang tadinya sudah tidak berguna atau tidak digunakan, bisa menjadi barang baru dengan sedikit kreatifitas. Dan yang pasti tidak mati gaya dirumah saat musim hujan seperti ini.

Silakan gunakan barang-barang lain yang ada dirumah. Selamat mencoba.. :D

Saturday, February 27, 2016

Masalah Kantong Plastik Berbayar Sudah Tidak Menjadi Soal Karena Ada Ini

Akhirnya tergoda juga untuk menulis tentang kantong plastik setelah melihat tulisan-tulisan pendahulu berkeliaran dimana-mana. Setengah survey dan sedikit pembuktian terhadap ramainya masalah kantong plastik ini. Jadilah saya memutuskan untuk belanja di beberapa tempat untuk merasakan sendiri sensasi bawa tas kain dari rumah atau beli plastik yang seharga 200 rupiah itu.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah toko alat tulis di jalan raya Jakarta-Bogor. Niatnya mau beli papan tulis, tapi karena mahal urung niat berganti beli buku. Sampai kasir, kasir melihat barcode dibarang yang saya beli, sebutkan harga, saya bayar dan selesailah transaksi dengan penutupnya barang saya dimasukan kedalam plastik. Iseng, saya cek struk pembelian dan harga bandrol barang yang saya beli. Sama. Artinya free kantong plastik (biarlah kepusingan itu plastik sudah masuk harga jual dari barang yang saya beli atau tidak, dirasakan oleh bagian yang buat harga saja. Yang penting saya tidak merasa membeli kantong tersebut karena saya membayar sesuai bandrol harga barang yang saya beli).

Tempat kedua adalah mall disamping pasar Cibinong. Lihat-lihat barang, ada yang menarik, singkat cerita saya sudah berada didepan kasa pembayaran. Kasir hanya menanyakan kartu member, kemudian lanjut transaksi dan berpindahlah uang saya kedalam mesin kasir berganti barang yang saya beli yang berada didalam kantong berlogo mall tersebut.

Tempat ketiga yang saya kunjungi, adalah *mart disamping gang rumah. Seperti sebelumnya, pilih barang, antri dikasir dan bertransaksi. Saya lihat ada dijual tas belanja seharga 9000 di atas meja kasir tersebut. Tapi penjaganya tidak menawarkan dan saya membayar sesuai tag harga di rak kemudian barang tersebut dimasukan ke kantong plastik. Klo yang ini, secara saya sudah membawa tas kain dari rumah dan akan terasa sia-sia jika tidak ikut diet kantong plasik, jadilah menolak plasik yang sudah disiapkan dan memakai jinjingan yang sudah sedari awal belum beraksi tersebut.

Begitulah perjalanan belanja saya hari ini. Dari ketiga tempat itu saya mendapat tiga kantong plastik secara gratis. Padahal untuk keren-kerenan, saya sudah sedia tas kain untuk membawa belanjaan dan berharap ditanya sama kasir "bawa tempat sendiri atau mau beli kantong plastik seharga 200 rupiah mba?". Dan saya tanpa menolak kebijakan membeli kantong plastik seharga 200 rupiah itu, akan menyodorkan tas kain saya sambil tersenyum. Ternyata belum berkesempatan melakukan hal tersebut, mungkin besok saya harus membawa tas kain dengan niat bukan untuk keren-kerenan, biar ditanya mba kasir :D

Jadi teringat jaman emak saya muda yang kepasar selalu membawa keranjang. Waktu itu sepertinya kantong plastik sudah ada, tapi generasi tersebut masih setia membawa keranjang belanjanya. Mungkin hal seperti itu bisa kita budayakan kembali. Biar lebih keren, sekarang jamannya tas kain/ DIY(saya lupa kepanjangannya apa, yang pasti bukan Daerah Istimewa Yogyakarta). Tapi konsepnya sama, menggunakan alat bantu yang lebih awet, bisa dipakai berulang-ulang dan enak dipandang. Selamat mencoba.. :D

Pict: tas kain oleh-oleh kunjungan batik Madura di Pamekasan bersama KIBAS (Komunitas Batik Jawa Timur)

Saturday, February 20, 2016

Resep Gemblong Cihui

Bahan:
-tepung ketan 1/2 kg
-kelapa 1/2 potong, diparut
-garam
-minyak goreng
-gula merah 2,5butir
-gula putih 1/8kg

Cara membuat:
Langkah 1
-aduk tepung ketan dengan air panas. Tambahkan kelapa parut, garam. Aduk hingga kalis.
-bentuk sesuai selera.

- panaskan minyak di wajan, masukan adonan yang sudah di bentuk. Goreng hingga berwarna keemasan.

Langkah 2
-panaskan gula merah & gula putih. Beri sedikit air. Aduk rata hingga mengental.


Langkah 3
Masukan adonan yang sudah digoreng kedalam cairan gula kental, aduk sampai gula menempel. Tunggu gula kering.


Note: abaikan gambar soto disamping adonan yang sedang dibuat :D.
Hati-hati saat menggoreng adonan, kadang suka meletup.

Monday, December 28, 2015

Ingat-Ingat Pesan Nenek

Klo tidak salah ingat, jaman saya kecil ada lagu anak yang salah satu liriknya "ingat-ingat pesan mama..", eh setelah saya coba tulis ternyata pesan mama yaa, bukan pesan nenek (tidak apa-apalah, biar judulnya tidak melanggar hak cipta :D)

Perjalanan liburan kemarin tertuju kerumah saudara untuk silaturohim, maka jadilah banyak bertemu saudara-saudara beberapa generasi baik atas maupun bawah. Dari keluarga kakek(generasi 1) yang memiliki tujuh orang anak (generasi 2) yang sudah beranak (generasi 3) pinak (generasi 4), banyak obrolan yang tertuang didalam silaturohim tersebut. Karena jarang bertemu, akhirnya tema masalalu menjadi efektif sebagai bahan pembuka perbincangan.

Saya sebagai generasi 3 sebagai cucu, masih merasakan banyak pelajaran yang didapat dari generasi atas. Begitu pula para sepupu (satu generasi dengan saya berarti) sabagai tuan rumah yang dikunjungi pada kesempatan ini merasakan hal yang sama dengan saya.

Nenek kami meninggal tahun 2008. Ditahun itu, usia kami sudah cukup remaja hingga bisa menyerap informasi dari sekitar. Di usia senjanya, dalam banyak kesempatan  nenek menasehati kami para cucu untuk menjada silaturohim. Seperti yang beliau sampaikan kepada saya, untuk selalu berkunjung kerumahnya dan saudara lain. Ternyata tidak kepada saya saja pesan senada di sampaikan. Kepada sepupu, beliau berpesan jangan hanya berkunjung kerumah nenek tapi juga kunjungi rumah uwa(kakak dari orang tua) dan bibi (adik dari orang tua).

Saat itu kami hanya iya-iya saja karena belum terlalu faham, jika berlibur ya sama dengan kerumah nenek. Tanpa kami ngider, saudara lain akan langsung datang jika tau kami datang. Dan ternyata pesan tersebut baru terasa maknanya saat ini. Saat beliau sudah tidak ada. Kebiasaan keluarga besar dulu mulai luntur. Rumah utama yang dulu sebagai rumah penampung anak-cucu dari nenek sudah sunyi.

Ingat-ingat pesan nenek.
Untuk selalu silaturohim, menjaga hubungan dengan saudara, berkunjung kerumah mereka. Hal tersebut mulai terasa dibutuhkan saat sekarang ini. Disaat generasi penghubung itu satu demi satu mulai pergi.

Monday, December 21, 2015

Saat "copas dari grup sebelah" Menjadi Pernyataan Sudah Memberikan Sumber

Di jaman digital ini, akan mudahnya kita mengakses informasi yang diinginkan dengan kecepatan super. Ketik kata kunci yang dicari, enter, dan dalam seperkian detik akan muncul ulasannya dari berbagai sumber. Walau tanpa hal yang sedikit merepotkan tersebut, berita-berita berseliweran di timeline jejaring sosial dan dengan sedikit hentakan jempol pada layar maupun tuts, informasi akan keluar.

Pada dasarnya semua informasi adalah baik selama penerimanya bisa mencerna informasi yang didapat tersebut. Yang menjadi masalah beberapa waktu kebelakang ini banyak orang yang setelah mendapatkan informasi, tanpa dicerna terlebih dahulu langsung di share (disebar) kepada yang lain. Dengan sedikit memberikan keterangan "dari grup sebelah" atau "copas", serasa sudah memberikan sumber dari mana informasi tersebut berasal. Bahkan kadang, ada juga yang share link tertentu karena judul besar yang dibuat si penulis tanpa pembaca yang menyebarkan link tersebut membaca isi tulisan secara keseluruhan.

"Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum kerena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (Qs. Alhujurot 49:6)

Pasal 19 Dekalarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights, 1948) menyatakan, "setiap orang berhak atas kebebasan beropini dan berekspresi, hak ini meliputi kebebasan untuk memiliki opini tanpa intervensi, serta untuk mencari, menerima, dan mengungkapkan informasi serta gagasan melalui media apapun dan tidak terikat pada garis berpendapat.

"Menjaga eksistensi media sebagai motor pendidik masyarakat meniscayakan ikhtiar untuk mengubah pradigma 'berita jelek adalah berita baik (bad news is good news). Semangat dasar jurnalis dalam membuat dan menyebarkan informasi adalah menyajikan sesuatu yang menjadi 'kebutuhan', bukan 'keinginan' masyarakat (what people need, not what people want)." (Republika, Kamis 16 April 2015)

Sebagai penerima berita sebelum kembali menyebarkan informasi yang sudah didapatkan, ada baiknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
Satu, Kroscek (tabayyun) isi dan sumber berita. Seringkali kita terfokus pada isi berita. Saat dirasa bermuatan positif, tanpa memperhatikan sumbernya darimana serta merta menyebarluaskan berita tersebut. Perlu diketahui dengan banyaknya fitnah yang membalut sebuah berita belakangan ini, informasi yang terlihat baik kadang malah bertujuan untuk menjatuhkan 'lawan'. Jadi ada baiknya saat mendapat sebuah informasi, cek kebenaran isi informasi tersebut dengan mencari beberapa sumber lain atau latar belakang informasi, dan pastikan sumber pemberi informasi tersebut bisa dipercaya.
Dua, perhatikan sisi manfaat dari informasi yang akan disebarkan. Jangan sampai tujuan baik ingin memberikan informasi tapi isi informasinya tidak ada unsur manfaat. Seperti share ghibah seputar publik figur, perdebatan tokoh politik, dan informasi lain yang banyak mudhorotnya dibanding manfaat.

Selamat mencerdaskan sekitar dengan berbagi informasi dari sumber yang terpercaya, setelah melakukan kroscek kebenarannya dan terkandung manfaat didalamnya.