sebagai wadah untuk menulis dan sesekali jualan.. ;) ambil yang baik, buang yang buruk. semoga bermanfaat. welcome.. ^___^
Thursday, January 30, 2025
kamu 1
first generation. Pasti tidak asing jika saya membicarakan mereka. Karena sesuatu yang pertama selalu melekat. Begitupun kebersamaan dengan mereka. Ketidaksengajaan mempertemukan kami kembali. Ketika saya sedang duduk menikmati suasana sore dipinggir setu (>_<) dengan selingan obrolan seputar update kehidupan bersama seorang teman serta sajian rujak ulek yang kadang merusak konsentrasi pembicaraan karena rasa pedas yang menyengat lidah menghasilkan beberapa kali jeda percakapan dengan suara-suara "haaahhh..haahhh..."
disela-sela dua kegiatan yang sedang dilakukan tersebut (makan dan ngobrol), dua orang gadis berjalan kearah kami,dan semakin dekat saya mengenali satunya. Dia adalah salah seorang murid dari angkatan 1. Sebuah pertemuan yang tidak direncanakan oleh kami, tapi tentu saja sudah dalam skenario Allah karena dengan pertemuan itu saya banyak mendengar kisahnya yang membuat renungan panjang.
Dia adalah seorang penghafal Al-Quran. Dari jenjang Sekolah Dasar sudah terliat istiqomahnya dia. Dia pun bercerita, lulus SD melanjutkan ke pondok. Dua tahun di pondok, kemudian ujian keluarga datang yang menyebabkan hubungan orang tuanya kandas, sehingga dia harus pulang dan ikut dengan bundanya ke kampung. Itu baru awal dari ujian yang dia lalui. Dengan nada santai dia bertanya, "Ibu tau gak klo mamah saya sudah tidak ada?"
Dengan perasaan sedih saya menjawab tidak. Ternyata sekitar tiga bulan berlalu dari mereka tinggal di kampung, qodarullah bundanya meninggal membuatnya harus kembali ke sini. Bukan hal mudah merasakan perpisahan orang tua, maka dia memilih tinggal dengan kakaknya, kemudian kembali ke pondok untuk melanjutkan hafalannya yang saat itu sudah 20 juz. Ujian pun kembali menerpanya.
Untuk seorang penghafal, pengelihatan merupakan salah satu indra yang Allah berikan sebagai senjatanya. Namun dengan sekejap mata tanpa tau penyebabnya apa,pengelihatannya mulai kabur diiringi kelumpuhan tubuh. Saya yang mendengar hal tersebut tercekat, tidak bisa banyak berkata-kata. Membayangkannya saja terlalu jauh untuk bisa saya coba rasakan. Dia pun melanjutkakn ceritanya. Kemudian dia dibawa pulang kerumah kakaknya. Pemeriksaan dokter pun dilakukan, dengan diagnosa yang tidak memuaskan karena hanya disebutkan ada gangguan pada saraf matanya yang mempengaruhi saraf tubuhnya juga."Saya harus di gendong-gendong bu. Klo mau keluar jg kadang mata saya sengaja diperban sebelah, karena keliatan seperti jereng gitu."
"Lalu gimana sampai akhirnya bisa sseperti sekarang?", tanya saya.
"Tidak tau juga. Karena seperti ketika penyakit itu datang, kemudian penyakit itu pun berangsur-angsur hilang dengan sendirinya",ucapnya.
Kemudian di melanjutkan hafalannya hingga tuntas, dan memutuskan untuk mengajar sambil menunggu waktu untuk lanjut kuliah. Setelahnya pembicaraan pun mencair dengan menanyakan jurusan yang nanti akan dia ambil, cerita masalalu yang membangkitkan kenangan, dan juga melakukan pangilan ke beberapa teman dia lainnya yang diperkirakan bisa ikut bergabung dalam acara temu kangen dadakan tersebut. Muncul tokoh baru menunjukan muncul juga update kehidupan lainnya. Mungkin saya termasuk orang yang selalu ingin tau perkembangan mereka.Tentu saja dalam harapan kebaikan dan kelancaran untuk mereka menapaki peta mimpinya. Namun kehidupan selalu punya jalannya sendiri yang berada diluar kuasa kita. Tidak semua berada dalam jalur norma, jadi lambungan doa selalu terpanjatkan. Akhirnya cerita pun akan beralih ke kamu yang lain...^_____^
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Thursday, June 15, 2023
tidak memberi hutang..dasar jahat!!
Berbicara tentang hutang, kata tersebut entah kenapa begitu melekat. Padahal jika diingat, tidak banyak situasi yang membuat saya bersinggungan dengan kata itu. Namun jika menarik ingatan jauuuhh kebelakang, kata tersebut pernah mengisi masa kecil saya dalam waktu yang cukup lama. Baiklah kita mulai yuk ceritanya.
Bukan berasal dari keluarga yang berkelebihan, tidak membuat saya terbebani dengan masalah finansial. Pikiran bocah kala itu adalah "ooh memang seperti ini kehidupan tuh" Tanpa ada rasa minder meskipun setelah di ingat sekarang kami tinggal di rumah yang nyaris rubuh. Itu bukan metafora untuk menjual kesedihan ^_^ itu kondisi nyata. Rumah setengah badan (sebutan rumah yang bagian pinggang keatas terbuat dari bilik/anyaman bambu) yang anyamannya sudah usang, beberapa kesempatan balok penyangga genteng jatuh, dan hau sebagai tempat masak. Aaahh seru ternyata mengorek ingatan masalalu. Jika di definisikan sekarang, keluarga kami adalah keluarga miskin. Namun kembali, entah saya yang tidak banyak berfikir, entah lingkungan yang tidak melakukan diskriminasi atau alasan lain yang sedang tidak melintas dikepala ini sehingga tidak bisa disebutkan, tapi saya merasa baik-baik saja. Ayah yang bekerja sebagai buruh pabrik kala itu dan ibu sebagai ibu rumah tangga, mereka tidak pernah berbagi kesulitan. Rengekan minta jajan yang tidak dipenuhi tidak dirasa sebagai bentuk ketidakmampuan keluarga, toh tetangga sepantaran yang orangtuanya bekerja lebih bagus tetap terdengar rengekannya. Menginjak jenjang SMP, rumah yang kami tinggali tidak bisa bertahan. Menghindari bahaya, maka diputuskan untuk dirubuhkan. Apa menjadi cerita sedih setelahnya? sepertinya tidak juga. karena kami tinggal di lingkungan keluarga besar. Jadi setelah rumah itu rubuh, kami menumpang di rumah salah satu keluarga. Kami menumpang tinggal disana mungkin sekitar 6 tahun. karena yang saya ingat sampai lulus SMA masih berada dirumah itu. baik sekali bukan?^__^
Bentuk kesyukuran saya yang tidak terhingga adalah memiliki orang tua yang tidak mengkontaminasi pikiran anaknya ini dengan sudutpandang buruk. Sepanjang bertumbuh dewasa, saya merasakan kebenarannya. Tapi itu didapati dari perkembangan diri dan kemampuan membaca situasi sekitar. Sampai sini sepertinya sudah mulai bisa diterka ya arahnya kemana?
betul sekali..
Ternyata keluarga kami bersinggungan dengan hutang. ALhamdulillah bukan sebagai keluarga yang berhutang, tapi ditengah keterbatasan, keluarga kami berperan yang meminjamkan. Berasaskan saudara sedang butuh tanpa melihat kebutuhan sendiri, singkat cerita sampailah jadi harus menumpang dirumah saudara selama itu :D
Berkaca pada kejadian dimasalalu, saya akhirnya berkeputusan untuk tidak membuat hutang sebagai pengikat hubungan dengan orang lain. Lalu apakah saya tidak pernah berhutang? tentu saja....pernah >,<
Tidak bisa dihindari ada fase paceklik ditengah rutinitas gajian, atau ada kebutuhan mendesak yang membuat hal tersebut tidak bisa dielakan. Namun sebelumnya tentu saja sudah dengan perhitungan. Perhitungan bahwa saya mampu untuk melunasi, perhitungan darimana sumber keuangan saya untuk membayar, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencicil dan banyak aspek lainnya yang dipikirkan sebelum berkeputusan. Dan hal tersebut terbawa sampai sekarang.
Ustaz Muhammad Abdul Wahab Lc dalam buku Berilmu Sebelum Berhutang yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan hadits-hadits yang menganjurkan agar manusia menghindari hutang. Manusia harus sebisa mungkin menahan diri untuk berutang sampai benar-benar perlu.
"Dari Aisyah r.a: Rasulullah berdoa dalam sholat, Ya Allah aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan terlilit utang. Lalu ada seseorang yang bertanya: Mengapa anda banyak meminta perlindungan dari utang, wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Sesungguhnya seseorang apabila sedang berutang ketika dia berbicara biasanya berdusta dan bila berjanji sering menyelisihinya. (HR Bukhari Muslim).
Jadi begitulaahhh sepenggal celotehan malam ini, menumpahkan isi tempurung kepala untuk diisi dengan hal lain.
Semoga Allah selalu menjaga kita semua yaa.... <3 <3
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Monday, April 13, 2020
GADMIKA 3
"Ada apa?", tanya saya seolah mengabaikan kisah sebelumnya. Karena saya tau. Yang dia butuhkan adalah mengeluarkan isi kepala dan membiarkan lidahnya memacu deretan kalimat yang sudah menjejali mulut untuk di muntahkan.
"Tidak apa-apa. Hanya tidak habis pikir dengan polahnya. Ini adalah moment keluarga, kamu tau itu. Karenanya kamupun diterbangkan untuk kesini. Tapi dia..", kalimatnya terhenti disana. Dari kekosongan, matanya berubah menjadi berkaca saat mengawali kisahnya.
.
Beberapa hari yang lalu memang ada pesan singkat masuk ke jaringan pribadi saya.
"Teh, lagi dimana? Kapan ada dirumah?", Sebuah sapaan basa basi mengawali percakapan kami.
"Lagi diluar. Ada apa?"
"Saya perlu bicara. Nanti saya telepon ya."
"Mungkin larut baru sampai rumah. Sekarang sedang berisik juga disini. Jika mendesak voice note saja." Saran saya karena pada saat itu memang tidak memungkinkan untuk menerima panggilan.
"Yaudah nanti klo sampai rumah, kabari saja", ujarnya memaksa untuk berbicara langsung.
Waktu beranjak malam dan saya belum ada tanda-tanda akan kembali kerumah. Karenanya, dengan mencari tempat yang agak sepi, saya pun menghubunginya untuk menanyakan apa yang ingin disampaikan siang tadi.
"Sudah pulang teh?" Katanya.
"Belum, tapi sudah bisa melakukan panggilan. Jadi ada apa?" Tanya saya penasaran.
"Jadi begini, pekan depan kerumah ya. Mau pada kumpul nyambut tamu. Ini perawan udah dateng jodohnya. Nanti mau serah uang. Kamu harus hadir nyaksiin." Katanya dengan nada antusias.
"Alhamdulillah. Siap. Kirain mau membicarakan apa. Tapi saya cukup terkejut sih. Karena baru bulan lalu saya lihat status media sosialnya menceritakan patah hatinya. Eeh, selang sebulan sudah terobati dengan obat mujarab. InsyaAllah saya akan datang", tutup saya mengakhiri sambungan telepon tersebut.
.
Di hari yang seharusnya berbahagia ini, tidak habis pikir kenapa nanar itu hinggap di wajahnya.
"Udah tau adenya mau serah uang. Dia malah belum dateng. Diarep-arep dari kemarin. Biar bisa kompromi baiknya gimana buat nyambut calon besan. Ini mah mana. Sampe sekarang aja belum keliatan itu batang idungnya", deras kalimat keluar. "Kamu aja udah ada di sini. Enggak bisa diandelin banget emang punya anak teh." Lanjutnya lagi.
"Padahal mah, orang tua engga pengen apa-apa. Cuma pengen ngumpul. Kalo adenya udah nikah dan entar tinggal sama lakinya, kan bakalan susah buat kumpulnya. Ini sibuk terus alesannya. Emang bakalan jadi orang kaya apah kalo udah sibuk kayak gitu."
Sambil mendengarkan keluh kesahnya, tangan saya mengambil kue cucur dari piring saji. Kue tradisional itu memang menggoda untuk sekedar di tatap. Sudah semestinya dia dilahap. Bukan mengabaikan atau berlaku tidak sopan, tapi mendiamkan apa yang tersuguh akan membuat peluang untuk Gadmika mencecar dengan kalimat "ini dimakan, cobain, jangan diantepin aja". Kalimat perintah yang merubah fokus dari rangkaian ceritanya.
Dan hari pun beranjak berisi kalimat-kalimat harapan Gadmika. Apa? Kamu mau tau apa saja harapannya. Tidak perlu lah. Jika penasaran, kamu bisa bertanya pada temanmu tentang harapan ibu, emak, enyak, mamah, ummi mereka. Semua akan memberikan jawaban yang sama dengan Gadmika. Karena kamu sudah menyiakan kesempatan itu, silakan tanya langsung ke orangnya. Toh di tengah kekecewaannya terhadap dirimu, saya tidak habis pikir seluas itu juga pemakluman dari semua sikapmu. Bakan melakukan pembelaan saat saya mencoba merendahkanmu. Fuh dasar sayang orang tua kepada anak. Untung saya sudah terlatih menghadapi situasi ini. Keadaan Gadmika yang memiliki keluasan pemakluman tersebut. Hingga, ditengah nanarnya dia, tidak terpancing untuk tetap bisa menikmati kue cucur dan teh panas.
Dan untukmu, sudahlah. Bukan saatnya saya menceramahimu tentang harapan-harapan Gadmika. Berhubung calon besan sudah datang, mungkin dikesempatan lain saya akan menemanimu menikmati kopi hangat dan menjembatani perasaan Gadmika.
#bersambung #fiksimini
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Tuesday, November 26, 2019
Ilmu Dunia
.
Bahkan secara gamblang seorang ustad berkata bagaimana bisa kita mensyiarkan agama Islam jika tidak bisa berkomunikasi dengan objek dakwah dan apakah kita rela setiap lini pengetahuan dikuasai oleh orang-orang yang tidak beriman? Padahal kita tau pada masa kegelapan (versi mereka), yang merupakan masa keemasan versi kita, banyak bermunculan penemu dan ilmuwan muslim. Apakah dengan begitu mereka meninggalkan Alqur'an?
.
Artinya, cita-cita menjadikan anak, saudara atau keluarga kita seorang hafidz tidak terbatasi dengan alqur'an saja. Setiap ilmu yang ada dan bisa membawa manusia menuju ketaatan kepada Allah adalah hal yang luar biasa. Bahkan sekarang banyak lembaga yang memberi kemudahan kepada para penghafal Alqur'an untuk mendapat kesempatan mempelajari ilmu "dunia". Tapi hal tersebut akan berkurang pencapaiannya ketika ORANG TUA dengan keyakinannya, "biar saja anak saya tidak pintar mtk, bahasa dan ilmu dunia lainnya. Asalkan mereka bisa hafal Alquran." Akhirnya banyak anak-anak yang tidak semangat belajar. Diusia mereka yang belum banyak memiliki motivasi pribadi, lalu mendapat dukungan dari ortu yang beranggapan ilmu yang lain "tidak berguna di akhirat" maka jadilah anak2 kita yang sulit bersaing menghadapi realita kehidupan. Karena jika anak kita punya cita2 menjadi Arsitek yang hafidz, mereka tetap harus berkutat dengan matematika. Jika anak kita punya cita2 menjadi penulis islami yang hafidz, mereka tetap harus berkutat dengan tata bahasa. Bahkan ketika anak kita bercita2 menjadi seorang da'i, mereka harus memahami sosiologi kehidupan objek dakwahnya.
.
Meskipun mempelajari & menghafal Alquran tentunya mempunyai keutamaan sendiri yang Masyaa Allah. Namun Allah tidak "pilih kasih" terhadap cabang ilmu lainnya. So, semangat menjadikan anak-anak kita seorang hafidz yang jago "ilmu dunia" juga :D (y) (y)
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Monday, November 25, 2019
First Generation of SD TAHFIDZ ARRASYID
3. Bersama lagi
Waktu berlalu. Dengan amanah baru. Kelas yang termasuk kelas tinggi tingkat awal dengan riuh tawa dan gelayutan di tangan memenuhi keseharian selama 6bulan sampai akhirnya perotasian terjadi. Qodarullah, saya kembali diminta membersamai kalian kembali. Sebuah pilihan sulit. Ketika hati sudah terpaut dengan kelas yang berlangsung selama 6 bulan tersebut. Namun juga tidak bisa menutup mata terhadap kalian. Pembuka pintu perkenalan saya dengan tempat itu. Dan cinta pertama juga dalam hubungan guru dan anak didiknya.
.
Dan waktu melesat begitu cepat. Dibulan kelahiran, kalian akhirnya dinyatakan lulus dari jenjang SD. sebuah hadiah terindah karena bisa membersamai kalian, mengantarkan kalian hingga titik itu. Haru dan bangga membaur hingga sulit diceritakan. Kesyukuran pun tak luput menyelinap menempati relung hati.
Selamat untuk 22 manusia terpilih. Selat untuk kalian yang dengan ini bisa mengepakkan sayap ketempat yang lebih jauh lagi.
Kalian istimewa.
First generation.
With love
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Pasal 27 sampai pasal 34
(2) Hak untuk mendapat kemudahan dan perlakuan khusus guna mencapai persamaan dan keadilan
(3) Hak atas jaminan sosial
(4) Hak atas milik pribadi yang tidak boleh diambil alih sewenang-wenang oleh siapapun.
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Pasal 31
Pasal 32
(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
BAB XIV
PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
Pasal 33
Pasal 34
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Selamat Hari Guru
Saya bukan orang yang memiliki cita-cita sejak kecil. Hobi yang dipunya tidak menuntun menjadi hal yang ingin digapai seperti cita-cita. Bahkan bisa jadi profesi sekarang bukanlah hasil pemikiran bahwa inilah yang diinginkan. Kala itu.
.
Tidak pernah bercita-cita menjadi guru bukan berarti tidak ada minat dalam dunia pendidikan ataupun mengajar. Karena entah kenapa semesta selalu menghubungkan dunia tersebut dengan lingkungan yang ada. .
Dan sekarang, disinilah saya berada. Dengan mereka para pendidik yang memberikan curahan rasanya kepada anak-anak yang bukan anak mereka. Disinilah saya berada, ditempat yang ilmu begitu bertebaran bagi siapapun yang ingin menggapainya. Berada disebuah tempat yang memberikan sebutan guru sebagai bagian darinya. Memberikan posisi mulia untuk sebuah diri yang entah pantas atau tidak untuk sebutan tersebut.
.
Namun salah satu yang dirasa, kecintaan itu ditumbuhkan dan beruntungnya memang bertumbuh. Setiap waktunya hati semakin terpaut dan setelah melewati putaran waktu, hei saya masih berada di sini dengan segala kenikmatannya.
.
Ini bukan hari kami.
Ini adalah hari dimana pengingat diri yang dilakukan secara bersama. Bahwa diri ini harus semakin baik setiap waktunya. Karena banyak bola mata yang masih jernih itu selalu menyaksikan laku kita. Karena memori mereka dengan cepat merekam polah kita.
Ini adalah hari dimana bisa menjadi moment dalam memurnikan niat.
.
Ini adalah hari dimana kita bersyukur pernah bertemu dengan orang-orang hebat yang dulu bersedia berbagi segala hal yang mereka ketahui, yang bisa jadi kita tidak menggubris omongannya kala itu. Hari dimana rasa terimakasih membuncah karena mereka yang bersedia mengisi wadah kosong kita dengan segala hal bermanfaat.
.
Semangat selalu untuk kamu, kalian, kita selaku pendidik. Yakinlah tidak ada kesiaan dari segala yang telah ditanam. Pada akhirnya semua akan berbuah. Meski mungkin tidak langsung saat ini, pasti nanti. Berbahagialah.
#selamathariguru #banggamenjadiguru #karenahiduppunyabanyakrasa #chimodeon #chidimanamana #sdtahfidzarrasyid #chiberkicau #celotehkkchi
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Friday, May 17, 2019
GADMIKA 2
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Gadmika
"Ada amarah dalam hatiku yang membuat aku merasa tersinggung, perasaan sakit itu begitu perihnya sehingga rasa itu mati bersama perasaan kecewa. Sebagai orangtua aku sadar betul bahwa anak tak sepenuhnya harus turut kemauan orangtua. Akan tetapi anak harus selalu hormat dan patuh, itulah kewajiban anak .
kadang ku berpikir sudah betulkah caraku mendidik anak, atau aku terlalu memanjakan mereka sehingga mereka jadi anak pembangkang. Kemajuan teknologi adalah faktor utama penyebabnya, kata kata orangtua dianggap angin yang berlalu. Tanpa sadar anak mulai jadi tak disiplin.
Aku kecewa padanya dan teramat sakit dan terluka akan sikapnya yang mulai tak sopan, aku kesal bercampur marah anak yang tadinya nurut dan patuh padaku mulai tak menghargai aku sebagai ibunya. Itulah sakit hati yang kurasakan sampai sekarang, begitu sakit teramat sakit, rasanya tak ingin melihat wajahnya.
Kasih sayangku pada anakku rasanya tak ku beda-bedakan tapi mengapa mereka mengecewakan hati ku, Ya..allah kalau memang anakku jadi anak pembangkang ambillah nyawaku sehingga aku tak perlu menyaksikan keburukan anak-anak ku…amin."
Hei, jangan kalian jatuhkan kertas itu. Kenapa, apakah kalian terkejut karena aku tau isi hati Gadmika dibanding kalian. Atau kalian sebenarnya menyadari hal tersebut namun gengsi untuk mengakuinya. Sekarang apa yang akan kalian lakukan? Hehe ucapan selamat hari ibu yang kalian serukan di media sosial itu apakah sudah tersampaikan kepada yang bersangkutan? Sudah lama aku tidak jumpa dengan Gadmika, mungkin saat bertemu nanti dia dengan senyumnya akan memberikanku selembar kertas kembali. Aku harap kembali berisi tentang kalian, tapi dengan kalimat-kalimat syukur atas cara kalian memuliakannya.
*fiksi mini
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Tuesday, January 22, 2019
Tolong Menolong
Jika dirasa melakukan sesuatu secara sendiri dirasa sulit, maka berekanlah. Dengannya kita bisa berbagi. Karena memang fitrahnya juga, kita manusia dikenal sebagai mahluk sosial. Mahluk yang tidak bisa hidup sendiri. Pasti memerlukan bantuan orang lain. Carilah rekan yang sejalan. Karena akan melelahkan jika berada dalam kondisi berekan tapi tidak sejalan. Bahkan banyak cerita melilih tidak berekan dibanding memiliki rekan namun tidak sejalan.
.
Tidak perlu juga berharap lebih dalam berekan. Karena masing-masing kita pasti memiliki kekurangan. Dan yang paling menyenangkan adalah dengan saling mengisi setiap sudut kurang lebih dari masing-masing kita pula. Bekerja sama. Sama-sama bekerja. Saling tau dengan tugasnya, saling mengerjakan hal yang dibisa. Mencari peluang untuk menyelesaikan setiap halnya dengan kontribusi masing-masing.
.
Setiap kita memiliki kemanpuan. Namun seringnya menjaga diri dari tugas dan memilih melimpahkan kepada orang lain. Padahal dari setiap tempaan tidak akan menjadikan kita orang yang sama. Pasti ada perbedaan dalam diri, dalam kemampuan, dalam pengetahuan dari tempaan tersebut.
.
Jadi, apa kabar kalian yang hanya mencari posisi dipinggirian sekedar menjadi penonton padahal ladang ilmu sedang dibentangkan begitu luasnya untuk diri yang mau belajar.
.
Dan tolong menolonglah kamu dalam ketaatan. Karena itu sebaik-baiknya pertolongan.
.
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Sunday, July 29, 2018
Rumah Cerdas DPD PKS Dikunjungi Orang Jepang
Saat ramadhan lalu, kelas kita kedatangan tamu Nihonjin yang sedang menuntut ilmu agama di Az-zikra Sentul. Fadiru san namanya. Di usia mudanya, beliau sudah tergerak untuk mendalami Islam dan bertekad untuk berdakwah saat kembali ke Jepang. Budaya bekerja keras nya terlihat dengan lulusnya beliau dari pesantren Az-zikra dengan bekal hafalan Quran yang subhanallah. Tidak hanya itu, Fadiru san juga berbagi cerita tentang kehidupan anak remaja seusianya di Jepang. Hal itu sangat menginspirasi teman-teman di kelas Nihongo.
.
Hari ini kitapun kedatangan kembali tamu dari Jepang. Beliau bernama Hiroshi Sone san. Beliau berprofesi sebagai terapis. Beliau berkunjung ke Indonesia selama dua bulan dan lusa adalah hari dia kembali. Hiksu :'( Sebelum kembali, Jo Sensei mengajaknya berbagi cerita di kelas kami.
Seperti biasa, tamu kami selalu disambut dengan antusias dan diminta bercerita tentang hal yang ingin kami ketahui seputar kebudayaan, kehidupan dan tempat-tempat di Jepang. Seru sekali kelas kami hari ini. Dengan pembawaan Hiroshi san yang terbuka, suasana kelas terasa begitu cair. Apalagi saat beliau memperlihatkan wallpaper HP nya, wiihh disambut sorakan kami (alasannya apa? Psstt itu rahasia kelas :D ).
Cerita ngalor ngidul pun berlanjut. Dari sukanya beliau dengan sate kambing, mendengarkan lagu Indonesia yang beliau suka, RAN "jauh dimata dekat di hati", sampai pertanyaan yg bikin ngarep "klo ke Jepang, kalian mau kemana?"
.
Karena kelas kami yang tidak memiliki uang kas, jadi tidak ada apapun yang kami siapkan (kode keras). Tapi Allah menggerakkan hati salah seorang teman untuk membawa makanan yang ada di rumahnya. Hehehe dia memang rajin membawa makanan sih dibanding saya atau yang lainnya. はい, di Indonesia kami menyuguhkan orang Jepang nasi kebuli yang notabene berasal dari Arab. Lengkap sudah. Dan sebuah kehormatan adalah saat Hiroshi san mau ikut makan bersama.
.
Setelah makan akhirnya sesi penutupan. Hiroshi san berpesan untuk semangat dalam belajar. Dan pesan khusus untuk yang belum punya SIM untuk membuat SIM (hahaha aib inii...).
Ternyata kelas Nihon go dari Rumah Cerdas dalam ketidak ada sorotan dari mana-mana (bahkan ada dari klub lain yang menanyakan apakah kelas kami masih ada :'( ). Hei, kami masih eksis. Dalam senyapnya kami masih tetap bergerak mencoba mewadahi para pemuda yang punya semangat untuk belajar.
がんばって ください。。!!
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Thursday, July 5, 2018
Keseruan Cooking Class With Team Nihon Go di RUMAH CERDAS
Dan akhirnya dalam sebuah komunitas belajar, tidak melulu harus monoton belajar sambil membaca buku. Melakukan kegiatan lain bersama-sama juga bisa menjadi pelajaran yang baik. Dan dengan begitu bisa menambah keakraban dan menghindari kebosanan.
Jadi, kapan kita melakukan sesuatu lagi nih? ;)
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Kesemek, Buah Genit Dengan Bedaknya

(Dalam 1kg berisi sekitar 5-6 buah)
Dialah buah dengan nama latin Diopyros Kaki atau nama bekennya si Buah Kesemek. Buah yang ketika muda berwarna hijau kemudian berangsur berubah menjadi oren sejalan dengan kematangannya ini berasal dari daratan China dan sempat banyak tumbuh di tanah Indonesia. Namun semakin kesini pamornya semakin menurun dan tersisihkan dibanding buah lain seperti apel, buah naga dan lainnya.
Dengan memiliki rasa dan aroma yang khas, Kesemek bisa dinikmati sebagai asupan buah favorit. Apalagi dengan kandungan vitamin C, zat besi dan kalsium yang sangat baik untuk kesehatan tubuh. Bukan itu saja, dengan terdapat nya Vitamin A dalam kandungan buah ini, semakin menambah kharismanya dalam upaya menjaga kesehatan mata anda. Dengan seratnya yang tinggi, buah kesemek ini cocok juga dijadikan kudapan untuk anda yang sedang menjalankan diet.
Zat Tanin yang terkandung didalamnya bisa membantu mengatur gerakan usus, yang berguna untuk anda yang sedang mengalami diare. Ternyata zat tanin ini juga yang menyebabkan buah kesemek memiliki bedak. Rasa tanin yang sepat bisa dikurangi dengan melakukan perendaman buah kesemek kedalam air kapur.
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Tuesday, June 5, 2018
RUMAH CERDAS 日本語 の クラス mengadakan BUKBER
Tidak terasa sudah terlewati keberadaan kelas kita selama dua tahun ini. Dari yang pesertanya sedikit, kemudian banyak sekali sampai akhirnya kembali sedikit. Hehehe tidak masalah. Kita adalah komunitas belajar, tidak aneh jika banyak yang singgah kemudian keluar lagi karena memang hanya orang-orang terpilih yang mau meluangkan waktu senggangnya untuk dipakai kembali belajar.
Awalnya kami menantikan waktu milad ini dengan rencana membuat sebuah stand dan menunjukan kegiatan kelas kita. Sambil menjual makanan ringan dan foto both untuk tamu yang mampir dengan disediakan penyewaan kimono. Ternyata tidak bisa terealisasi karena milad utama tidak diselenggarakan di gedung yang biasa. Pupuslah sudah. Hiksu..
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Thursday, November 9, 2017
Hubungan antara Masalah dan Gosokan
Masalah itu seperti cucian yang belum di gosok ternyata. Saat dibiarkan mengunung malah bikin males dikerjakan karena terlihat buanyaakk dan malesiiinnnn.. Sampai akhirnya sampai pada suatu titik, isi lemari habis sehingga mau tidak mau itu gunungan pakaian kudu bin harus di pegang juga.
.
Setelahnya dengan sedikit tekad lebih, satu demi satu akan mengalir terselesaikan. Lelah, letih, lesu, lunglai, loyo seperti jargon obat zat besi akan mencari celah untuk melanjutkan gogoleran (tidur-tiduran santai), sambil nonton drama korea atau baca komik keluaran terbaru. Tapi balik lagi, sedikit tekad lebih itu kadang cukup untuk menghalau penyakit 5L dalam beraktivitas.
.
Sedikit grundel kenapa ini gunung lama sekali ratanya, tidak seperti illegal logging yg bisa begitu cepatnya meratakan hutan kita pasti sering terselip. Tapi jika tangan masih tetap mengambil satu persatu baju dari gundukkannya, taraaa... Waktu membuktikan.. Semua terselesaikan saudara-saudara. Dan tahukah kamu, ternyata ketika semua sudah selesai, yang awalnya berupa sebuah gunung, ternyata hanya menjadi beberapa tumpukan.
.
Begitu pula dengan masalah kita, bisa jadi ketika ditumpuk, tidak diperhatikan dan diselesaikan akan menggunung dan membuat kita "males banget ngeliatnya". Tapi juga akan ada satu waktu tidak bisa membiarkan itu terus menggunung, entah karena muncul kesadaran untuk menyelesaikan masalah tersebut ataupun terpaksa harus diselesaikan karena sekian tuntutan dan kebutuhan.
.
Apapun motivasinya, tetap usaha untuk menyelesaikan masalah itu sudah masuk katagori K.E.R.EN.. Setelah itu, cukup sedikit membulatkan tekad dan waktu...taraaa... Semua terselesaikan. Dan ketika kalian mengintip kebelakang, ternyata masalah itu tidak sebanyak yang terlihat jika di atur dengan rapi...
.
Selamat mencoba <3 <3
*Chismile
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Wednesday, September 27, 2017
keseruan program RUMAH CERDAS di kelas nihon go, KIMONO Style
Beberapa waktu lalu kelas nihon go sudah melakukan perjalanan dalam acara gathering ke Curug Ciherang. Melakukan kegiatan luar itu tidak bisa sering-sering dilakukan, karena terkendala banyak hal (kapan belajarnya juga yaa kalo kebanyakan jalan-jalan.. :P). Alhamdulillah ada seseorang yang baik hati mau mewakafkan kimono yang beliau peroleh dari negara sakura tersebut untuk digunakan di kelas nihon go kami. wooh langsung dah yaa khilaf.. :D
Awalnya sih karena baru dibawakan satu kimono, kami dengan rasa malu-malu untuk mencobanya. Dengan bantuan tutorial dari Mbah (google) melalui youtube, mulailah berkreasi menggunakan kimono dan menggulung badan dengan balutan obi. Tidak semudah yang dipikirkan ternyata, melihat beberapakali usaha yang harus dilakukan untuk mendapatkan bentuk obi yang enak di pandang setelah dikenakan. Akhirnya, iyeeii berhasil... Tidak lupa juga jadi model dadakan doong. . ^_^/
Makin seru adalah ketika dijanjikan untuk kimono tambahan, dengan syarat diambil sendiri. Untung saya tidak bisa salto, jadi tidak ada acara salto-saltoan. Fuuh, kucing mana yang tidak mau jika ditawari ikan, beberapa waktu kemudian jadilah beberapa dari kami datang menjemput barang yang dijanjikan. dengan mata berbinar, tidak sabar menunggu pertemuan berikutnya untuk mencoba kimono-kimono tersebut.
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Saturday, September 2, 2017
Sedikit Banyak Kita Juga CAPER
Kembali dengan kesadaran yang terlambat. Sebagai manusia yang sudah lebih dewasa(dibanding anak-anak di sekolah dasar tentunya), seharusnya pengendalian diri kita pun lebih baik dibandingkan mereka. Namun seringkali karena suasana, kita pun terbawa arus perasaan dan kebiasaan lama lah yang keluar. Dengan baper (terbawa perasaan), marah-marah, ngambek sampai menangis (satu ini belum masuk daftar saya, karena sisi yang bisa menggelitik saya untuk menangis itu sepertinya tidak akan tersentuh rombongan ini) itu hanya menunjukkan ketidakmampuan kita untuk menarik perhatian. Akhirnya kita memilih cara-cara diatas untuk mencari perhatian (CAPER). Tidak bedanya dengan mereka, anak-anak didik yang dengan segala polahnya mencari perhatian kita. Seperti dengan rajin mengerjakan tugasnya, tingkahnya, sikap ngeyelnya bahkan bantahannya.
Dan akhirnya senyuman ini mengembang. Ahaa.. kita adalah orang-orang yang sedang mencari perhatian satu sama lain. Hei kalian ayo kita bekerja sama untuk bisa saling memperhatikan dengan cara yang lebih baik.
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Thursday, July 20, 2017
Berantem yang ga baper
Dirumah, hampir semua anak laki- laki tetangga bisa jadi memusuhi saya. Karena teh Enung galak tentunya (huu bangga). Jadi interaksi kami selalu saat saya ngomel (maafkaaannn). Karena itu pula saya belum terbiasa membaca karakter para jagoan ini. Dan nyatanya seperti para anak perempuan dengan segala keunikannya, begitupun para anak laki-laki.
Hari ini saya menyaksikan itu langsung dari polahnya anak-anak. Ada anak yang saya bilang baperan. Karena apa? Karena ketika saya tanya alasannya kenapa berkelahi, "abisnya dia bikin saya kesal.." katanya. Nah kan... :p padahal sebelum hari ini saya menilainya sebagai anak yang cukup tenang (oke saya kurang belajar).
Tapi bukan disana yang saya soroti. Karena saya melihat hal lain yang cukup menarik juga. Ketika puncaknya kesal, saya melihat pancaran kemarahan dalam sela isaknya (ini juga nih yang bikin gimanaaa gitu, diusia mendekati baligh nya saya jadi agak sungkan buat menenangkan dengan cara yg biasa, akhirnya perlu waktu yg sedikit lebih panjang untuk membuatnya tenang). Sudah lama tidak melihat anak seusia itu menangis karena kesal. Bertengkar adu mulut sudah cukup dan biasanya sampai menangis jika sudah berantem fisik dalam tingkatan tertentu (level tertentu yang memang sudah terasa sakit). Dengan bantuan teman-temannya yang lain akhirnya kondisi terkendali.
Seru juga saat bagian ini. Dengan sekian banyaknya anak, ada saja bagian provoksi, tim hore, antipati dan penengah. Agak sedikit lucu saat ada anak yang mencoba menengahi. Dia bilang, "sudah, masalah kecil jangan di ributkan. Sabar.. sabar.. tenang.." dengan sikap seriusnya. Maafkan saya yang sejenak ingin tertawa. Bijak sekali kamu nak.
Okay, singkat cerita suasana sudah terkendali. Mereka sudah balik ke posisi masing-masing. Daaan yang membuat saya wow, setelah masuk materi baru yang mengharuskan posisi mereka bergerombol disekitar saya, secara tidak sadar akhirnya mereka bersebelahan. Dan apa yang terjadi? Mereka sudah seperti biasa, saling menimpali materi yang saya berikan seolah tidak ada hal yang terjadi sekian waktu lalu (padahal saya masih menyusun kata-kata untuk membuat laporan karena sampai mengganggu kelas lain).
Hei nak, kalian memang luar biasa. Itulah perselisihan yang tidak dibawa sampai hati walau menusuk hati. Penyebab awalnya adalah hati yang tersakiti, namun kalian menyikapinya dengan sejenak meluapkan apa yang dirasa berikutnya hilang bersamaan kurasan keringat. Tidak berpanjang-panjang dalam perasaan. Dan ternyata itu bisa kalian lakukan. Sedangkan kami disini, yang sudah menjalani kehidupan yang lebih banyak dibanding kalian sering lupa untuk itu. Lupa menguras hati dari segala rasa tidak nyaman, lebih memilih membawanya sehingga memperpanjang ketidaknyamanan.
Terima kasih untuk pembelajaran yang sudah di tampakkan. Kalian luar biasa 😀👍
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Friday, July 7, 2017
Tada, arigatou
Tada, Arigatou”
Monkey majik
Tada arigatou tsutaetakute tada kimi no egao o mitakute
Mou furimukanai yo hitomi no saki e
Ima shiawase o tsutaetakute taisetsu na hito ga dareka tte ne
Arigatou kimi to deaete
Kono subete no oboetakoto sore wa itsumo it's hard for me
Demo nando mo tsumazuite
Sore demo ima koko ni iru no wa egaite ita kara
Itsuka kitto shinjiteita no sa
Everything we know tsunagaru yo ima
Tada arigatou o tsutaetakute tada kimi no egao o mitakute
Mou furimukanai yo hitomi no saki e
Mada umaku tsutaerarenakute taisetsu na hito ga dareka tte ne
Arigatou kimi to deaete
Mayonaka sora miage not knowing
Furueru obieru yureru not showing
Sono ue dou shiyou mo nai
Fuan de nemurenai
Kasukana koe de sakebunda
"sayounara namida no hibi yo"
Your heart and soul is in it, feel it!
Kinou to chigau asu ni suru yo
Make a brighter day
Moshi zutto soba ni ite kuretara
Everything we know hajimaru yo ima
Sono kimi no afureru egao ga kanashimu o yasashisa ni kaete
Mou furimukanai yo hitomi no saki e
Kono shiawase o tsutaetakute taisetsu na hito ga kimi datte ne
Arigatou kimi to deaete
Te to te o tsunaide yeah
Itsuka hanashita yume no tsuzuki o kanaeyou
I'll be ready
Tada arigatou tsutaetakute tada kimi no egao o mitakute
Mou furimukanai yo hitomi no saki e
Ima shiawase o tsutaetakute taisetsu na hito ga dareka tte ne
Arigatou kimi to deaete
♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪
Terjemahan:
“Hanya Terima Kasih”
Aku sekedar ingin menyampaikan terima kasih,
sekedar ingin melihat senyummu
Takkan berpaling lagi, pandangan mataku
Ingin kusampaikan bahagia ini sekarang,
dan tentang siapa orang yang penting bagiku
Terima kasih, telah bertemu dengan kamu
Pada semua kenangan ini, selalu saja berat bagiku
Tapi walaupun berkali-kali tersandung
Keberadaan kita sekarang di sini adalah karena telah digambarkan sebelumnya
Waktu kupercaya bahwa pasti suatu saat nanti
Semua yang kita ketahui akan berhubungan, sekarang
Aku sekedar ingin menyampaikan terima kasih,
sekedar ingin melihat senyummu
Takkan berpaling lagi, pandangan mataku
Belum bisa kusampaikan dengan lancar,
tentang siapa orang yang penting bagiku
Terima kasih, telah bertemu dengan kamu
Menengadah memandang langit tengah malam, tanpa mengerti
Gemetar, ketakutan, bergetar, tidak diperlihatkan
Lebih dari itu kutak bisa berbuat apa-apa
Tidak bisa tidur karena kekhawatiran
Menjerit dengan suara yang lemah
Selamat tinggal hari-hari dengan air mata
Hati dan jiwamu di dalamnya, rasakanlah
Ku kan membuat hari esok yang berbeda dengan kemarin
Membuat hari yang lebih cerah
Jika seandainya kamu akan terus berada di sampingku
Semua yang kita ketahui akan dimulai, sekarang
Wajahmu yang dipenuhi senyum itu mengubah kesedihan jadi kebaikan
Takkan berpaling lagi, pandangan mataku
Ingin kusampaikan bahagia ini, dan bahwa kamulah orang yang penting bagiku
Terima kasih, telah bertemu denganmu
Tautkanlah tangan, yeah
Mari kita wujudkan kelanjutan mimpi yang pernah kita bicarakan entah kapan
Aku akan sedia
Aku sekedar ingin menyampaikan terima kasih,
sekedar ingin melihat senyummu
Takkan berpaling lagi, pandangan mataku
Ingin kusampaikan bahagia ini sekarang,
dan tentang siapa orang yang penting bagiku
Terima kasih, telah bertemu dengan kamu
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D
Kisah dari Bantal Kapuk Apek menjadi New Bantal Kapuk
Terlahir di era 90an awal memang merupakan berkah tersendiri. Dimana masa-masa transisi perubahan jaman terlihat nampak jelas. Saat berkirim surat dengan sahabat pena pernah booming sebelum berganti media elektronik handphone dengan segala kecanggihannya dalam mempermudah berkirim pesan bahkan dengan pemberitahuan sudah atau belum nya pesan tersebut di terima. Belum lagi segala macam permainan yang melibatkan benda disekitar yang seiring waktu terganti dengan segala olahan plastik atau cukup puas dengan permainan dibalik tampilan layar.
Bukan hanya itu, segala "kesulitan" pada era tersebut untuk mendapatkan barang atau sesuatu yang diinginkan secara tidak langsung membuat diri lebih apik ketika berhasil memperolehnya dan memilih membetulkan saat sudah mulai rusak. Seperti cerita bantal saya ini. Bantal itu hanya bantal kapuk. Ya BANTAL KAPUK (bantal saat ini biasanya diisi dengan busa, bulu unggas atau dakron). Bantal itu pun bukan bantal bersejarah seperti anak-anak yang tidak bisa lepas dari bantal/selimut/guling dia dari semasa kecil yang sudah tidak jelas bentuk, aroma dan penampakannya. Bantal itu bantal biasa yang sarungnya sudah banyak membentuk pulau dengan artistik, sudah mulai keras karena jarang dijemur dan yang utama sudah mulai menganggu karena beraroma (oke, itu semua ulah saya selama berinteraksi langsung dengannya).
Sebagai orang yang kekinian (iyakaahhh..), pikiran awal yang terlintas adalah saatnya ganti bantal, tentu dengan membeli bantal baru. Apalagi melihat bantal kapuk itu sudah tidak setipe sebetulnya dengan kasur dan guling yang selama ini menjadi rekanan dalam memanjakan malam hari saya. Baiklah, fix kita buang ini bantal (biasanya karena tenaga pembersih tidak mau membawa sampah seperti selain sampah dapur, jadilah pilihannya dibakar).
Menunggu matahari meninggi agar bantal itu langsung habis terbakar, sudahlah yaa beres-beres rumah dulu. Bongkar ini itu, lap ini itu, keluar masukkan barang ini itu. Dan seperti diketahui, setiap bongkar-bongkar selalu saja menemukan barang yang tidak terduga. Ya ya ya, saya menemukan bahan yang sepertinya sama dengan bahan yang membungkus kapuk tersebut. AHA.. sisa jiwa era 90an kembali muncul ke permukaan. Dengan mesin jahit portabel yang teronggok di pojokan rak karena kebosanan pemilik nya (oke itu saya lagi), dengan membentuk jahitan lurus dan menyiku di setiap sudutnya (sambil menyisakan sedikit bagian untuk memasukan isi) mari kita mulai berkarya.
Masker mana masker? Ready, di lanjut menggunting sarung yang sudah penuh dengan karya seni, menggemburkan, lalu memindahkan isinya ke sarung yang baru dijahit (dalam kondisi harum semriwing pewangi pakaian dan belum terkontaminasi dengan liur kering combo keringat yang bereaksi dengan angin), done. Sudah pindah semua isinya, lalu jahit kembali bagian untuk memasukan kapuk untuk menutup maka sempurnalah rangkaian kanibalisasi benda bernama bantal tersebut menjadi new bantal.
Bantal baru dengan citarasa lembutnya kapuk didalamnya itu bisa hadir karena rasa memperbaiki hal yang masih bisa diperbaiki tersebut.
Seringnya kita saat ini dengan segala kemudahan yang ditawarkan sekitar, saat melihat sesuatu yang "sedikit" rusak, lintasan pikiran akan terpusat untuk segera mengganti dengan yang baru, dengan yang lebih bagus dengan mengukur kualitas dari harga yang tidak segan untuk dikeluarkan. Kita lupa untuk melihat kembali apakah segala hal baru itu memang kita butuhkan, apakah segala yang lama dan sudah ada kerusakan karena sudah menemani kita dalam mudahkan urusan kita selama ini sudah betul-betul tidak bisa diusahakan untuk di pertahankan. Semua itu bukan sekedar konsep berhemat yang di terapkan, tapi ada hal lain yang lebih bermakna. Yaitu menghargai setiap apa-apa yang sudah membersamai kita.
Kata orang, buanglah sampah pada tempatnya. Seperti hal tersebut menulislah pada tempatnya. Mencoba sedikit berbagi melalui kata dari saya seorang yang sedang belajar merangkai kata :D


















