Monday, November 25, 2019

Selamat Hari Guru


Saya bukan orang yang memiliki cita-cita sejak kecil. Hobi yang dipunya tidak menuntun menjadi hal yang ingin digapai seperti cita-cita. Bahkan bisa jadi profesi sekarang bukanlah hasil pemikiran bahwa inilah yang diinginkan. Kala itu.
.
Tidak pernah bercita-cita menjadi guru bukan berarti tidak ada minat dalam dunia pendidikan ataupun mengajar. Karena entah kenapa semesta selalu menghubungkan dunia tersebut dengan lingkungan yang ada. .
Dan sekarang, disinilah saya berada. Dengan mereka para pendidik yang memberikan curahan rasanya kepada anak-anak yang bukan anak mereka. Disinilah saya berada, ditempat yang ilmu begitu bertebaran bagi siapapun yang ingin menggapainya. Berada disebuah tempat yang memberikan sebutan guru sebagai bagian darinya. Memberikan posisi mulia untuk sebuah diri yang entah pantas atau tidak untuk sebutan tersebut.
.
Namun salah satu yang dirasa, kecintaan itu  ditumbuhkan dan beruntungnya memang bertumbuh. Setiap waktunya hati semakin terpaut dan setelah melewati putaran waktu, hei saya masih berada di sini dengan segala kenikmatannya.
.
Ini bukan hari kami.
Ini adalah hari dimana pengingat diri yang dilakukan secara bersama. Bahwa diri ini harus semakin baik setiap waktunya. Karena banyak bola mata yang masih jernih itu selalu menyaksikan laku kita. Karena memori mereka dengan cepat merekam polah kita.
Ini adalah hari dimana bisa menjadi moment dalam memurnikan niat.
.
Ini adalah hari dimana kita bersyukur pernah bertemu dengan orang-orang hebat yang dulu bersedia berbagi segala hal yang mereka ketahui, yang bisa jadi kita tidak menggubris omongannya kala itu. Hari dimana rasa terimakasih membuncah karena mereka yang bersedia mengisi wadah kosong kita dengan segala hal bermanfaat.
.
Semangat selalu untuk kamu, kalian, kita selaku pendidik. Yakinlah tidak ada kesiaan dari segala yang telah ditanam. Pada akhirnya semua akan berbuah. Meski mungkin tidak langsung saat ini, pasti nanti. Berbahagialah.

#selamathariguru #banggamenjadiguru #karenahiduppunyabanyakrasa #chimodeon #chidimanamana #sdtahfidzarrasyid #chiberkicau #celotehkkchi

Friday, May 17, 2019

GADMIKA 2

Hei gadmika, apa kabar? sekian waktu saya tidak berkunjung. saya hafal dengan sapaan khasnya ketika bertemu kembali. "hei, kemana saja, sombong tidak pernah main. Sudah jadi orang kaya?" dan selalu saya jawab dengan nyengiran lebar sambil menyambut uluran tangan dan menciumnya dengan takzim. Kali ini tidak ada kumpulan surat yang dia berikan. Padahal saya sedikit berharap mendapat cerita baru dalam bentuk otentik, sehingga bisa saya baca secara berulang. Namun tanpa lembaran-lembaran itu, ternyata bukan berarti tidak ada cerita yang saya dapat. Bahkan dengan lisanmu, ucapan itu mengalir lebih deras ternyata. Kami selalu tidak punya satu tema pembicaraan, karena setiap pertemuannya terisi dengan obrolan ngalor ngidul yang akan semakin melebar. Kalian mau tau apa yang kami bicarakan edisi pertemuan kali ini? Ayolah, saya sedang ingin bercerita. tolong kalian dengarkan, seperti ketika saya mendengarkan celotehannya Gadmika yang panjang itu.
Diawali dengan tema rutin yang pasti akan sampai ditelinga saya ketika melenggang masuk ke ruang tengah dengan ransel masih di pundak. "Pada sehat orang sana? makan napa, hari ini masak sayur yang tidak biasa. Lobak di tumis, semur kentang, dan goreng tahu. Klo datang kemarin mah disini lagi masak ayam dan bikin kolek. Lehernya lagi gak lempeng.." Yup, tema menu makanan hari ini dan seminggu kebelakang akan mengawali pembicaraan kami. "ngeteh dulu apa? itu enteh dan gulanya di keler. bikin aja sendiri", sambungnya. Pertanyaan yang berarti perintah itu tidak akan berhenti berulang jika salah satunya belum saya laksanakan. Dan saya yang senang dengan perintah itu biasanya akan membiarkannya terucap berulang sampai terlihat dia sudah tidak perduli lagi saya mau minum atau makan baru saya akan melangkahkan kaki ke dapur kotrak kotrek cari ini itu sampai tersaji teh panas untuk diri saya sendiri.
"gimana kabar mereka?" tanya saya. Kalian pasti tau siapa mereka. Mereka adalah anak-anak Gadmika yang sudah pernah saya ceritakan waktu itu. Setelah saya menunjukkan surat yang Gadmika buat, saya menjadi penasaran apakah ada perubahan yang terjadi. dengan raut wajah kebas, dia menjawab "sehat, jika kabar itu yang kamu maksud.""hmmm.."tidak langsung banyak berkomentar saya pun menyeruput teh cap botol seduhan sendiri yang diletakkan dimeja. 

#bersambung #fiksi mini

Gadmika

Namanya GADMIKA. Ya, dia menamai dirinya begitu. Aku tau hanya kalian berdua yang dapat mengenalinya, karena kepada kalian dia memperkenalkan diri sebagai Gadmika. Walaupun sekarang aku pun ragu, bukan hal mustahil kalian melupakan sosok itu. Bisa karena semakin banyaknya kegiatan kalian diluar, atau bisa jadi Gadmika memang tidak nyata karena hanya kepada kalian dia memperkenalkan diri dengan nama itu. Tapi aku yakin dia ada. Karena pernah suatu kali dia memperkenalkan diri dengan nama itu. Gadmika. Kalian mau tau apa yang pernah dia sampaikan? Dengan mata nanar, Gadmika menunjukan goresan penanya menuliskan tentang kalian. Aku yakin kalian tidak tau. Baiklah akan aku tunjukan kepada kalian.

"Ada amarah dalam hatiku yang membuat aku merasa tersinggung, perasaan sakit itu begitu perihnya sehingga rasa itu mati bersama perasaan kecewa. Sebagai orangtua aku sadar betul bahwa anak tak sepenuhnya harus turut kemauan orangtua. Akan tetapi anak harus selalu hormat dan patuh, itulah kewajiban anak .

kadang ku berpikir sudah betulkah caraku mendidik anak, atau aku terlalu memanjakan mereka sehingga mereka jadi anak pembangkang. Kemajuan teknologi adalah faktor utama penyebabnya, kata kata orangtua dianggap angin yang berlalu. Tanpa sadar anak mulai jadi tak disiplin.

Aku kecewa padanya dan teramat sakit dan terluka akan sikapnya yang mulai tak sopan, aku kesal bercampur marah anak yang tadinya nurut dan patuh padaku mulai tak menghargai aku sebagai ibunya. Itulah sakit hati yang kurasakan sampai sekarang, begitu sakit teramat sakit, rasanya tak ingin melihat wajahnya.

Kasih sayangku pada anakku rasanya tak ku beda-bedakan tapi mengapa mereka mengecewakan hati ku, Ya..allah kalau memang anakku jadi anak pembangkang ambillah nyawaku sehingga aku tak perlu menyaksikan keburukan anak-anak ku…amin."

Hei, jangan kalian jatuhkan kertas itu. Kenapa, apakah kalian terkejut karena aku tau isi hati Gadmika dibanding kalian. Atau kalian sebenarnya menyadari hal tersebut namun gengsi untuk mengakuinya. Sekarang apa yang akan kalian lakukan? Hehe ucapan selamat hari ibu yang kalian serukan di media sosial itu apakah sudah tersampaikan kepada yang bersangkutan? Sudah lama aku tidak jumpa dengan Gadmika, mungkin saat bertemu nanti dia dengan senyumnya akan memberikanku selembar kertas kembali. Aku harap kembali berisi tentang kalian, tapi dengan kalimat-kalimat syukur atas cara kalian memuliakannya.

*fiksi mini

Tuesday, January 22, 2019

Tolong Menolong


Jika dirasa melakukan sesuatu secara sendiri dirasa sulit, maka berekanlah. Dengannya kita bisa berbagi. Karena memang fitrahnya juga, kita manusia dikenal sebagai mahluk sosial. Mahluk yang tidak bisa hidup sendiri. Pasti memerlukan bantuan orang lain. Carilah rekan yang sejalan. Karena akan melelahkan jika berada dalam kondisi berekan tapi tidak sejalan. Bahkan banyak cerita melilih tidak berekan dibanding memiliki rekan namun tidak sejalan.
.
Tidak perlu juga berharap lebih dalam berekan. Karena masing-masing kita pasti memiliki kekurangan. Dan yang paling menyenangkan adalah dengan saling mengisi setiap sudut kurang lebih dari masing-masing kita pula. Bekerja sama. Sama-sama bekerja. Saling tau dengan tugasnya, saling mengerjakan hal yang dibisa. Mencari peluang untuk menyelesaikan setiap halnya dengan kontribusi masing-masing.
.
Setiap kita memiliki kemanpuan. Namun seringnya menjaga diri dari tugas dan memilih melimpahkan kepada orang lain. Padahal dari setiap tempaan tidak akan menjadikan kita orang yang sama. Pasti ada perbedaan dalam diri, dalam kemampuan, dalam pengetahuan dari tempaan tersebut.
.
Jadi, apa kabar kalian yang hanya mencari posisi dipinggirian sekedar menjadi penonton padahal ladang ilmu sedang dibentangkan begitu luasnya untuk diri yang mau belajar.
.
Dan tolong menolonglah kamu dalam ketaatan. Karena itu sebaik-baiknya pertolongan.
.
ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [al-Mâidah/5:2]

Sunday, July 29, 2018

Rumah Cerdas DPD PKS Dikunjungi Orang Jepang

Setelah liburan Idul Fitri selesai, saatnya kita kembali belajar Nihongo. Ini jadwal mundur lama juga.. :( tapi tak apalah, semoga makin semangat belajar setelah libur lama.
Saat ramadhan lalu, kelas kita kedatangan tamu Nihonjin yang sedang menuntut ilmu agama di Az-zikra Sentul. Fadiru san namanya. Di usia mudanya, beliau sudah tergerak untuk mendalami Islam dan bertekad untuk berdakwah saat kembali ke Jepang. Budaya bekerja keras nya terlihat dengan lulusnya beliau dari pesantren Az-zikra dengan bekal hafalan Quran yang subhanallah. Tidak hanya itu, Fadiru san juga berbagi cerita tentang kehidupan anak remaja seusianya di Jepang. Hal itu sangat menginspirasi teman-teman di kelas Nihongo.
.
Hari ini kitapun kedatangan kembali tamu dari Jepang. Beliau bernama Hiroshi Sone san. Beliau berprofesi sebagai terapis. Beliau berkunjung ke Indonesia selama dua bulan dan lusa adalah hari dia kembali. Hiksu :'( Sebelum kembali, Jo Sensei mengajaknya berbagi cerita di kelas kami.

Seperti biasa, tamu kami selalu disambut dengan antusias dan diminta bercerita tentang hal yang ingin kami ketahui seputar kebudayaan, kehidupan dan tempat-tempat di Jepang. Seru sekali kelas kami hari ini. Dengan pembawaan Hiroshi san yang terbuka, suasana kelas terasa begitu cair. Apalagi saat beliau memperlihatkan wallpaper HP nya, wiihh disambut sorakan kami (alasannya apa? Psstt itu rahasia kelas :D ).
Cerita ngalor ngidul pun berlanjut. Dari sukanya beliau dengan sate kambing, mendengarkan lagu Indonesia yang beliau suka, RAN "jauh dimata dekat di hati", sampai pertanyaan yg bikin ngarep "klo ke Jepang, kalian mau kemana?"
.
Karena kelas kami yang tidak memiliki uang kas, jadi tidak ada apapun yang kami siapkan (kode keras). Tapi Allah menggerakkan hati salah seorang teman untuk membawa makanan yang ada di rumahnya. Hehehe dia memang rajin membawa makanan sih dibanding saya atau yang lainnya. はい, di Indonesia kami menyuguhkan orang Jepang nasi kebuli yang notabene berasal dari Arab. Lengkap sudah. Dan sebuah kehormatan adalah saat Hiroshi san mau ikut makan bersama.
.
Setelah makan akhirnya sesi penutupan. Hiroshi san berpesan untuk semangat dalam belajar. Dan pesan khusus untuk yang belum punya SIM untuk membuat SIM (hahaha aib inii...).

Ternyata kelas Nihon go dari Rumah Cerdas dalam ketidak ada sorotan dari mana-mana (bahkan ada dari klub lain yang menanyakan apakah kelas kami masih ada :'( ). Hei, kami masih eksis. Dalam senyapnya kami masih tetap bergerak mencoba mewadahi para pemuda yang punya semangat untuk belajar.
がんばって ください。。!!