Friday, July 15, 2016

Mintalah kepada-Nya, karena Allah Maha Pemberi

Ini lebaran pertama yang saya jalani dengan posisi jadi pengangguran (pengangguran kerja yang menghasilkan uang, bukan nganggur aktifitas. Karena kegiatan masih aja bejibun). Hiks.. :'( kebayang kan melewati ramadan dengan jajan tambahan untuk berbuka dan lebaran dengan segala kelengkapan seperti pada umumnya. Tidak sebatas itu, setelah lebaran juga pasti diiringi dengan hari libur masal, dan disanalah puncak kegundahan muncul.
Bulan ramadan bisa dilewati dengan baik, karena pada dasarnya bulan suci tersebut memang sarana melatih menahan hawa nafsu. Nafsu belanja bukaan (makanan untuk berbuka) termasuk didalamnya. Dengan berbekal stok sayur buah dan kondisi tubuh yang pada sebenarnya cukup dengan berbuka dengan kurma & air putih atau minuman hangat. Semua aman terkendali.
Lebaran tanpa baju baru, seperti lebaran tanpa ketupat. Afdol tapi hampa (iissshhh lebai). Dari sini mulai merubah paradigma (huu dah setua ini baru mulai berubah) bahwa lebaran tanpa baju baru sama cihui nya seperti lebaran dengan masak lontong, bukan ketupat. Sambil mengamati isi lemari, berapa banyak baju didalamnya dan nyatanya hanya itu-itu saja yang sering digunakan. Bahkan baju lebaran tahun lalu masih bisa dihitung dengan jari satu tangan berapa kali dipakainya. Sembari membedah isi lemari, membenahi posisi tumpukan baju, dan munculah satu...dua...tiga baju yang masih dalam plastik beningnya. Owalaa, sebelum berhenti kerja saya sudah beli baju baru dan belum dipakai pula. Alhamdulillah, jadi sensasi memakai baju baru masih dirasakan walau status pengangguran. Perubahan paradigma yang di bentuk harus menunggu uji suksesnya tahun depan.. :D
Tantangan terakhir dari rangkaian lebaran ini adalah libur masal. Kapan lagi ada libur panjang bersama selain momen lebaran. Dari keluarga yang jarang bertemu karena kesibukan kerja, tempat wisata yang ingin dikunjungi, antusiasnya menjadi memuncak saat libur lebaran. Keluar rumah = keluar ongkos = biaya.. Rumusan ini yang membuat gundah. Kapan lagi kumpul dengan keluarga besar dirumah saudara yang dituakan selain saat libur lebaran. Susah sangat juga mengatur waktu liburan dengan teman-teman selain di rangkaian libur panjang lebaran. Begitulah, liburan ini yang belum mendapat solusi dari rangkaian siasat yang diatur sedemikian rupa. Dan disanalah Allah menunjukan Kuasa-Nya.
Dengan sisa tabungan yang semakin menipis, dengan list rumah saudara yang harus dikunjungi, dan rangkaian impian tempat wisata yang mau dikunjungi. Semua itu terealisasi atas ijin-Nya. Keliling rumah saudara mendapat tebengan dan traktiran ongkos dari saudara yang lain. Tidak cuma itu, pengalaman pertama kembali setelah sekian tahun merasakan mendapat "angpau" lagi. Hehehe malu-malu seneng menerimanya juga.
Rumah saudara beres, tapi impian jalan-jalan masih melekat. Disanalah kekuatan do'a nampak. Mintalah, karena Allah Maha Pemberi. Dan benarlah nyatanya.
Pertama diajak saudara mengunjungi temannya yang sedang dinas jaga lembaga penelitian. Yang selama ini saya cuma lewat depan gerbangnya, hari itu bisa masuk kedalamnya.
Berikutnya saudara menawarkan kursi kosong yang sebelumnya dibilang penuh. Free ongkos, cuma menganggarkan satu lembar uang berwarna biru, saat pulang masih ada sisa.
Lanjut ketempat wisata kisaran Puncak bersama teman. Dengan paket minimalis, bawa makan dari rumah, tanpa jajan, jadilah terlaksana.
Sudah sampai sana? Belum saudara-saudara. Teman yang lain masih mengajak kumpul bersama. Woow, hari libur sudah mau habis, dompet makin kering, tapi godaan jalan masih memanggil. Akhirnya dengan berbekal niat silaturohim, berbekan makanan dari dapur masing-masing, dan berbekal taman sebagai sarana umum yang bisa dikunjungi secara gratis, jadilah kami kumpul makan bersama di taman wilayah Depok yang baru pertama kali saya kunjungi, dengan lahan luas dan tampilan menarik. Jadi keinginan jajan-jalan itu sebenarnya bisa terpuaskan dengan mengunjungi tempat baru sekalipun itu dekat dari tempat tinggal.
Mintalah, karena Allah Maha Pemberi. Dalam banyak kesempatan berdo'a, kita selalu menyelipkan meminta rejeki. Allah dengan Kuasa-Nya menjawab do'a kita. Adalah pemikiran sempit saat menganggap rejeki itu hanya sebatas tumpukan harta. Sesungguhnya kesempatan kita untuk bertaubat dalam jiwa yang masih bersatu dengan raga adalah rejeki. Diberikan teman yang bersamanya kita bisa saling berbagi, menasehati adalah rejeki. Segala kemudahan yang menuntun kita pada keinginan yang tercapai adalah rejeki. Bahkan ketidakmampuan kita mewujudkan harapan, dan setelah berselang waktu mensyukuri karena dulu harapan itu tidak terkabul karena berakhir mudhorot juga merupakan rejeki.

 Maka mintalah pada-Nya, karena Allah Maha Pemberi.

Thursday, June 2, 2016

Citarasa Jaman Dulu, Bersahabat Dengan Alam

Salah satu yang saya sukuri dari memiliki seorang encang (panggilan untuk kakak dari ibu) satu ini adalah kemampuannya bersahabat dengan alam. Dari sekian bersaudara, setau saya hanya beliau yang masih bersahabat dengan alam. Bersahabat seperti apa sih yang sedari tadi dibicarakan? :D

Ya, saya menyebutnya bersahabat dengan alam. Di usianya, dan di lingkungan tempat tinggal yang sudah semakin sulit melihat barang serumpun rumput liar tumbuh karena hamparan alas semen, beliau masih mengenal nama tumbuhan tersebut dan kadang masih menggunakannya sebagai bahan pangan dan racikan obat. 


Seperti hari ini saya dikenalkan dengan tanaman samiloto. Kalian ada yang tau samiloto?Hehehe klo saya baru lihat penampakannya hari ini. Saya mengira itu pohon cabai. Dengan warna daun hijau tua (mungkin mengandung banyak klorofil), dan berbunga putih kecil, mirip sekali dengan pohon cabai. Tapi katanya samiloto berbuah, sayangnya saya tidak berkesempatan melihat buahnya karena memang belum ada. Beliau menerangkang bahwa samiloto itu bisa digunakan sebagai obat. Dengan rasanya yang super pahit, bisa mengobati diabetes. Selain diabetes, samiloto ddigunakan sebagai obat  gatal. Daunnya yang di masak dengan tanaman lain (campuran bawang merah tunggal, bawang putih, jahe, dll yg saya lupa apa lagi yang beliau sebutkan) kemudian dicampur dengan minyak kletik (minyak yang didapat dari santan kelapa murni yang dipanaskan hingga keluar minyaknya). Lalu penggunaanya di balur di tubuh yang gatal tersebut.

Ketelatenannya juga masih terjaga dengan bukti kesediaannya memarut lima butir kelapa untuk diperoleh minyaknya. Ya, ditengah segala kemudahan yang ada, perlu kelapa parut tinggal ke tukang sayur yang menyediakan mesin parut, namun beliau memilih memarut dengan bantuan alat manual. Alat parut bergerigi, yang saat kita lengah sedikit bisa menyebabkan daging jari terkoyak.

Begitulah kearifan yang saya pelajari dari beliau. Alam sudah memberikan yang kita butuhkan. Allah sudah menyediakan alam untuk kita gunakan. Lalu mengapa kita masih kurang puas dengan seluruh pemberian-Nya?. Menggunakan pengetahuan yang juga pemberian-Nya, namun bukan untuk kebahagiaan. Membuat samaran rasa dengan menggunakan bahan sintesis, meracun serangga dengan beringas, membuat pembungkus yang tidak terurai alam, meratakan paru-paru bumi dan mengantinya dengan beton yang menjulang, serta banyak lagi ciptaan manusia yang menggeser kemurahan yang sudah disediakan alam.



Sunday, May 29, 2016

Keberagaman Yang di Seragamkan

Negara Indonesia yang terdiri dari banyak pulau ini memiliki corak geografis yang berbeda-beda di beberapa wilayahnya. Hal tersebut juga mempengaruhi tumbuhan yang tumbuh, dan berdampak pada beranekaragam pula sumber pangan pokok di setiap daerah. 

NTT yang memiliki corak geografis dan budaya yang khas terdiri dari dataran lahan kering. Hal tersebut menjadikan jagung dan kacang-kacangan yang bisa tumbuh di jenis lahan tersebut sebagai makanan pokok. Di Mamuju, Sumbar juga memiliki makanan pokok khas yang bernama jewawut. Sedangkan di Karawang yang daerahnya cocok untuk menanam padi, maka tidak heran jika disana banyak persawahan untuk memenuhi sumber pangan daerah tersebut.

Akan menjadi tidak seimbang jika sumber pangan disetiap daerah dikesampingkan, lalu diberlakukan keseragaman sumber pangan. Seperti halnya yang terjadi sekarang ini. Banyak yang mengeluhkan harga beras yang tinggi, kurangnya persediaan makanan pokok tersebut di pusat, semakin sedikitnya persawahan karena pembangunan, dan sebagainya. Hal tersebut terjadi bisa jadi karena diseragamkannya sumber makanan pokok tadi. Daerah-daerah yang tidak mendukung untuk bercocok tanam pada akhirnya harus bersusah payah mendapatkan beras dari daerah lain. Padahal daerahnya sendiri sebenarnya sudah memiliki sumber pangan pokok yang sesuai dengan keadaan daerahnya, tanpa khawatir kalah akan kandungan nutrisi didalamnya.

Itu baru dilihat dari satu sudut. Sumber pangan. Semakin dicermati, sekarang ini semakin banyak penyeragaman dari keanekaragaman yang ada.

 Hari raya yang terasa kurang afdol tanpa ada hidangan daging sapi, padahal peternak lokal mengalami kesulitan mencari pakan alami untuk ternaknya karena semakin jarangnya tempat rumput bisa tumbuh. Berujung dengan inpor sapi dari negara lain serta dibumbui kelonjakan harga yang fantastis pula.

Anak sekolah yang stress karena standar nasional yang tidak bisa mereka capai karena bisa jadi sarana dan prasarana belajar yang selama ini mereka terima kurang mendukung.

Serta banyak lagi contoh lain dari keaneka ragaman yang di seragamkan namun berdampak kurang bagus. "Berbeda tapi satu", bukan berarti diterapkan dalam hal-hal diatas bukan? Berbeda warna kulit, bahasa, namun sama-sama menyembah Allah, itu cakep. Namun memaksakan hal yang sebelumnya sudah memiliki karakter, tapi dipaksa untuk menjadi satu karakter yang sama, lama kelamaan karakter asli menjadi terkikis dan hilang. Dan disaat keseragaman mulai terbentuk, aspek-aspek penunjangnya tidak mendukung, maka kehancuranlah yang akan terjadi. Lidah yang sudah tidak biasa dengan sumber pangan daerah sendiri, pemikiran yang sudah terbentuk untuk mencapai standar nasional tanpa melihat lagi cara untuk memenuhi standar tersebut, pusing dengan harga-harga yang tidak merakyat, dan seterusnya guncangan-guncangan terjadi.

Biarlah keanekaragaman itu sebagai warna warni yang menyenangkan. Keberagaman karakter yang mengagumkan. Selama tidak melanggar aturan agama, hal itu akan menjadi kekayaan tersendiri dari sebuah daerah, sebuah pribadi. Karena berbeda itu indah.


Monday, April 11, 2016

Sarimbit new models by NIBRA'S

Dengan bahan cigarette, nyaman dipakai dan cocok digunakan dalam banyak acara.
Koko: 148.000
Gamis: 198.000






Saturday, April 2, 2016

Cara Seru RT03/RW01 Mengumpulkan Warga, dengan Lomba Tumpeng

Pemilihan ketua RT03/RW01 Kelurahan Ciriung sudah berlangsung bulan Februari lalu. Dari acara demokrasi tersebut terpilihlah bapak Komala sebagai ketua RT memperpanjang masa jabatan  yang sebelumnya sudah pernah beliau emban. Setelah sebelumnya pembentukan anggota, bapak Sahroni sebagai sekretaris dan bapak Yayan Mulyani sebagai bendahara, pada malam ini (02/04) dilakukan rapat kerja yang diadakan di majlis.
 

Untuk menarik kehadiran warga, diadakan pula lomba tumpeng untuk para ibu. Terdapat 8 kelompok pembuat tumpeng, yang pada setiap kelompoknya terdiri dari 11 orang. Dengan begitu warga berdatangan untuk menghadiri undangan ketua RT sekaligus menentukan pemenang dari kreasi tumpeng yang dilombakan.
Kriteria penilaian lomba adalah penampilan, rasa dan kelengkapan gizi. Masing-masing kelompok memiliki ciri khaa sendiri. Ada kelompok yang salah satu anggotanya adalah juru masak hajatan, mereka mengusungkan rasa sebagai andalan. Ada yang menyajikan kelengkapan gizi dan lauk, mereka memuat semua aspek gizi yang dibutuhkan secara lengkap. Dan ada juga yang berkreasi dengan membuat tumpeng warna-warni untuk menarik penilaian juri dalam segi penampilan.

Juri yang memberi penilaian adalah ketua RW terpilih, bapak Sehabudin, RT 04 sebagai tamu undangan, dan beberapa bapak pengurus.

Hal tersebut menjadi menarik karena sebelumnya hal seperti ini belum pernah dilakukan. Semoga dengan banyaknya warga yang hadir dan berpartiaipasi dalam acara tersebut menjadi lebih solid dalam membangun kampung Ciriung umumnya, dan lingkungan RT03 pada khususnya.