Friday, July 7, 2017

Kisah dari Bantal Kapuk Apek menjadi New Bantal Kapuk

Terlahir di era 90an awal memang merupakan berkah tersendiri. Dimana masa-masa transisi perubahan jaman terlihat nampak jelas. Saat berkirim surat dengan sahabat pena pernah booming sebelum berganti media elektronik handphone dengan segala kecanggihannya dalam mempermudah berkirim pesan bahkan dengan pemberitahuan sudah atau belum nya pesan tersebut di terima. Belum lagi segala macam permainan yang melibatkan benda disekitar yang seiring waktu terganti dengan segala olahan plastik atau cukup puas dengan permainan dibalik tampilan layar.

Bukan hanya itu, segala "kesulitan" pada era tersebut untuk mendapatkan barang atau sesuatu yang diinginkan secara tidak langsung membuat diri lebih apik ketika berhasil memperolehnya dan memilih membetulkan saat sudah mulai rusak. Seperti cerita bantal saya ini. Bantal itu hanya bantal kapuk. Ya BANTAL KAPUK (bantal saat ini biasanya diisi dengan busa, bulu unggas atau dakron). Bantal itu pun bukan bantal bersejarah seperti anak-anak yang tidak bisa lepas dari bantal/selimut/guling dia dari semasa kecil yang sudah tidak jelas bentuk, aroma dan penampakannya. Bantal itu bantal biasa yang sarungnya sudah banyak membentuk pulau dengan artistik, sudah mulai keras karena jarang dijemur dan yang utama sudah mulai menganggu karena beraroma (oke, itu semua ulah saya selama berinteraksi langsung dengannya).

Sebagai orang yang kekinian (iyakaahhh..), pikiran awal yang terlintas adalah saatnya ganti bantal, tentu dengan membeli bantal baru. Apalagi melihat bantal kapuk itu sudah tidak setipe sebetulnya dengan kasur dan guling yang selama ini menjadi rekanan dalam memanjakan malam hari saya. Baiklah, fix kita buang ini bantal (biasanya karena tenaga pembersih tidak mau membawa sampah seperti selain sampah dapur, jadilah pilihannya dibakar).

Menunggu matahari meninggi agar bantal itu langsung habis terbakar, sudahlah yaa beres-beres rumah dulu. Bongkar ini itu, lap ini itu, keluar masukkan barang ini itu. Dan seperti diketahui, setiap bongkar-bongkar selalu saja menemukan barang yang tidak terduga. Ya ya ya, saya menemukan bahan yang sepertinya sama dengan bahan yang membungkus kapuk tersebut. AHA.. sisa jiwa era 90an kembali muncul ke permukaan. Dengan mesin jahit portabel yang teronggok di pojokan rak karena kebosanan pemilik nya (oke itu saya lagi), dengan membentuk jahitan lurus dan menyiku di setiap sudutnya (sambil menyisakan sedikit bagian untuk memasukan isi) mari kita mulai berkarya.

Masker mana masker? Ready, di lanjut menggunting sarung yang sudah penuh dengan karya seni, menggemburkan, lalu memindahkan isinya ke sarung yang baru dijahit (dalam kondisi harum semriwing pewangi pakaian dan belum terkontaminasi dengan liur kering combo keringat yang bereaksi dengan angin), done. Sudah pindah semua isinya, lalu jahit kembali bagian untuk memasukan kapuk untuk menutup maka sempurnalah rangkaian kanibalisasi  benda bernama bantal tersebut menjadi new bantal.

Bantal baru dengan citarasa lembutnya kapuk didalamnya itu bisa hadir karena rasa memperbaiki hal yang masih bisa diperbaiki tersebut.

Seringnya kita saat ini dengan segala kemudahan yang ditawarkan sekitar, saat melihat sesuatu yang "sedikit" rusak, lintasan pikiran akan terpusat untuk segera mengganti dengan yang baru, dengan yang lebih bagus dengan mengukur kualitas dari harga yang tidak segan untuk dikeluarkan. Kita lupa untuk melihat kembali apakah segala hal baru itu memang kita butuhkan, apakah segala yang lama dan sudah ada kerusakan karena sudah menemani kita dalam mudahkan urusan kita selama ini sudah betul-betul tidak bisa diusahakan untuk di pertahankan. Semua itu bukan sekedar konsep berhemat yang di terapkan, tapi ada hal lain yang lebih bermakna. Yaitu menghargai setiap apa-apa yang sudah membersamai kita.

Monday, June 12, 2017

Memungut pelajaran dari mana saja

Diawali dari sebuah pesan yang mengajak membantu (hehehe jadi pemain inval) dalam sebuah lingkungan. Sebagai orang baru dengan potongan lama, jadi tidak diberi kesempatan untuk bergaya ala-ala anak baru.hiks

Disana tentu berhubungan dengan orang yang "pernah" kenal dan banyak juga berjumpa dengan yang belum dikenal. Dan perjumpaan dengan salah satu dari mereka yang belum kenal inilah saya memungut pelajaran :) Di awali dengan perbincangan seputar bulan ramadhan. Beliau berkata,"ramadhan ini saya belum melakukan buka bersama diluaran selain dirumah dan sekitar saja. Padahal suami sudah mengajak dan anak-anak pun sudah meminta.."

Teman pun bertanya kenapa, karena kebanyakan kita sibuk memilih tempat untuk bukber, menghubungi orang-orang dari berbagai komunitas yg kita ikuti untuk buka bersama. Kita akan bilang itu adalah moment silaturohim, tidak sering ini untuk berkumpul dan makan malam bersama. Dan jawaban beliau yang membuat saya merenungkan kembali kata-katanya. Saya merasa sarat akan makna. Beliau bilang, "iya kita tidak kesulitan untuk berpindah makan dari meja makan di rumah ke meja makan warung atau restoran di luar sana. Tapi nanti tarawihnya gimana?" Suaminya menjawab, "kamukan bisa sholat dirumah".

Beliau menjawab,"iya saya bisa, Tapi apakah kamu bisa menjamin bahwa anak-anak saya tidak akan tertinggal solat isya& tarawih di masjid? Tau sendiri, mereka lebih sulit jika di minta solat tarawih di rumah, akan banyak alasannya.."

Indah sekali dialog itu. Dimana orang tua yang begitu berusaha menjaga amalan anaknya. Beliau tidak mau sang anak kehilangan kesempatannya dalam beribadah. 

Semoga kita berkesempatan menjadi orang tua yang bisa mendidik penerus generasi ini dengan disiplin diri agar bisa menumbuhkan pemahaman bahwa hidup kita di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah, bukan sekedar bersenang-senang. Tidak ada yang salah dengan buka bersama. Tapi jangan sampai perkara ibadah kita menjadi terlalaikan karenanya..

*coretan edisi ramadhan

Monday, May 29, 2017

Cetakan itu Membentuk...

Bukan hal besar sebetulnya. Hanya melihat mereka seperti kumpulan remaja yang beberapa waktu lalu saya sering berinteraksi dengan mereka dalam sebuah wadah. Jadi, saat melihat usia-usia itu reflek melakukan pendekatan yang biasa.

usia remaja sekarang memiliki tantangan sendiri yang berbeda dengan usia remaja saat jaman kita (NO.. saya belum setua itu juga, hanya waktu itu kebetulan terdampar di lingkungan mba-mba aja, jadi.. yaa gini deh :p). Dengan segala kemudahan informasi yang dapat mereka temui, segala fasilitas yang mereka dapatkan dari orang tua atau sekitar (sarana umum), dan minimnya masukan pemikiran positif yang mereka dapatkan (bukan karena kurang media, tapi bisa jadi media yang tersedia kurang menarik untuk mereka. Hehehe tantangan buat aktifis media :D ) menjadikan usia remaja menjadi rentan dengan kondisi yang bisa membentuk mereka dengan "cetakan" yang salah.

Jangan salah, remaja sekarang bukannya manusia lugu yang selalu manut akan setiap intruksi yang diberikan seperti generasi dekade sebelumnya. Mereka adalah manusia pemikir yang kritis, para pencari pemuas keingin tahuan, dan tidak di pungkiri juga korban kecepatan informasi. Jadi tidak tepat pula jika kita yang sudah terbilang dewasa mengeluhkan ketidak taatan mereka, sedangkan kita masih menggunakan pola lama yang mengedepankan otoritas tanpa melakukan pendekatan yang sesuai dengan mereka.

Belum lama ini saya menyaksikan langsung ke"otoriteran" manusia dewasa kepada para remaja tersebut dalam pembentukan lingkungan. Saya tau betul tujuan orang dewasa itu baik dengan menginginkan remaja yang menjadi "tanggung jawabnya" berada dalam seluruh pantauannya sehingga lebih mudah di arahkan saat melenceng dan lebih mudah di tegur saat melantur. Tapi mungkin beliau lupa bahwa pola pengekangan itu mulai tidak efektif saat para remaja yang sedang mencari dunia yang cocok dengan keinginannya itu bertemu dengan benturan-benturan pengekang.

Marilah mulai berpikiran terbuka. Saya masih ingat sebuah kalimat saat masih bekerja di perusahaan (hehe isi K3 kayaknya)"bersikaplah seperti konsumen dalam menghasilkan produk". Tidak tepat jika menganalogikan mereka sebagai produk. Tapi ada kemiripan penanganan yang bisa kita lakukan. Saat kita ingin membuat sesuatu, coba bayangkan kita adalah pemakai produk tersebut. Dengan begitu kita akan membuat produk yang terbaik. Dan untuk menghasilkan produk yang baik, kita harus menjaga setiap bagiannya sebelum menjadi produk utuh dan siap digunakan.

Begitu pula dengan menangani mereka kan? kita harus menjaga lingkungannya, kesenangannya, dan perasaannya. Seberapapun jaman terus berubah, remaja tetap saja remaja yang pengalamannya sedikit dibandingkan dengan para orang dewasa. Orang dewasa yang sudah pernah melewati masa remaja, harusnya lebih tau apa yang di butuhkan dan diinginkan saat seusia mereka.

Berdasarkan pengalaman selama berinteraksi dengan para remaja, ternyata mereka hanya perlu di dengar dan sedikit lebih di perhatikan. Kita sering meminta mereka seperti ini itu agar menjadi ini  itu, tapi jarang sekali mendengar mereka mau nya seperti apa. Tidak melulu kemauan mereka itu melenceng dari ketentuan, karena pada fitrahnya manusia menyukai kebaikan cuma karena minimnya pengalaman hidup mereka dibanding kita wajar jika ada yang tidak sejalan dan disanalah peran kita untuk meluruskan, mengingatkan, dan memberi gambaran bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan apa yang dituju.
Begitupun perhatian. Bentuk pengekangan yang dilakukan kita, orang dewasa, kita definisikan itu sebagai perhatian. Padahal  bukan perhatian macam itu yang mereka inginkan. Memberi kebebasan mereka untuk memilih adalah perhatian yang mereka harapkan. Bahkan seringnya kita lupa mengutarakan hal-hal kecil seperti sapaan ringan atau menanyakan seputar perasaannya hari ini. Kita menganggapnya itu hal yang sudah tidak di perlukan, mereka sudah terlalu besar untuk mendapat pertanyaan sepele itu. Psttt, padahal jika kita memberikan perhatian-perhatian kecil tersebut, dijamin itu lebih ampuh mendapatkan"hati" mereka dibanding  segala bentuk pelarangan..

Kita memang mengharapkan dapat mencetak generasi unggul, tapi biarkan generasi unggul itu terbentuk dengan pendekatan yang mendekatkan, bukan pendekatkan yang memuakkan, karena mereka punya bentuk masing-masing. Bukankah generasi unggul itu yang bisa bertahan dalam segala kondisi, dan bagaimana bisa bertahan di  segala kondisi jika di cetak dengan pola yang semua "harus" sama, sedangkan seperti halnya kita, setiap mereka punya kondisi yang berbeda...

Saturday, April 22, 2017

Refleksi 1 ねんくらい は 日本語 の クラス を べんきょうしました

おはよう ございます みなさん, お げんき ですか
Adakah yang ingat tanggal 5 Juni itu ada apa? わすれましたか?? Sama, saya pun sebenarnya tidak melihat ada hal yang khusus pada tanggal tersebut (teruusss ngapain nanyaaa…. ) sampai akhirnya bersih-bersih pesan masuk dan menemukan pemberitahuan “…kepada peserta bahasa Jepang untuk hadir pada ahad 5 Juni 2016 untuk registrasi ulang dan pertemuan perdana…”. Begitulah awalnya.

Sebetulnya saya lupa kapan tanggal launchingnya , tapi kata sensei bersamaan dengan launching pusat berkhidmat yang diresmikan oleh oleh ust Agus Salim selaku ketua DPD Kab.Bogor, saat awal pendaftaran, dan dalam rangkaian milad PKS juga . Dan berhubung hari ini ada launching rumah cerdas DPC Cibinong, jadi kita anggap saja berbarengan di tanggal yang sama.. :D

Tidak terasa sudah satu tahun kelas 日本語 di rumah cerdas PKS berjalan. Proses belajar yang cukup menyenangkan jika melihat sulitnya mempelajari bahasa jepang itu sendiri, dengan banyak kondisi pula yang menyebabkan semangat naik turun. Namun nyatanya kelas ini masih berlangsung hingga saat ini. Termasuk sebuah pencapaian juga kan, secara pendahulunya (kelas bahasa lain) yang pernah diadakan tidak bisa bertahan melewati bahkan satu semester karena (jurus) menghilangnya satu persatu peserta. Iiyeeiiii

Refleksi satu tahun ini akhirnya saya buat dengan melihat perjalanan tersebut. Selamat menikmati…


わたしたち, がくせい
Karena kita berkumpul dari berbagai latar belakang (ada yang latar belakangnya luas, sempit, bahkan dempet dengan latar milik tetangga sebelah… *opo iki), motivasi, kebutuhan dan ketertarikan akan bahasa jepang yang juga berbeda-beda, menyebabkan keterkotak-kotakkan didalam kelas (apa itu artinya keterkotak-kotakan?? Mmm maafkan penulis yang sering berkunjung ke planet Namek jadi sering kecampur bahasa aliennya :P. okeh, maksudnya terpisah, tidak menyatu antar anggotanya, hanya ngobrol dengan teman sebelah yang orangnya itu-itu saja, bahkan ada yang selama dikelas tidak pernah mengobrol, bukan karena serius sekali dengan pelajaran tapi karena tidak punya teman “sekotak”). Belum lagi dengan keluar masuknya peserta, menjadikan kita membutuhkan waktu yang terbilang lama dalam adaptasi untuk bisa tegur sapa dengan nyaman saat bertemu di ruang depan ketika menanti ruangan kosong, ngobrol santai, dan melempar candaan layaknya teman.


はい, memang kadang menembus penyekat kotak-kotak itu perlu usaha lebih, harus ada yang memulai, dan yang terpenting ada rasa yang sama untuk mau berbaur menciptakan suasana yang nyaman untuk kita berada didalamnya. Alhamdulillah itu sudah terlewati (yesss… pencapaian kecil berikutnya yang bermakna besar).

Mengingat sudah berjalannya kelas 日本語 selama satu tahun ini, sebenarnya ada satu pertanyaan horor, yaitu," sudah bisa apa aja setelah belajar selama satu tahun itu?". doeeenggg tiba-tiba seperti terserang amnesia. Mau ijin ke toilet aja serasa di black hole, tidak kelihatan awalnya mau bilang apa. :'(  (hiperbola mode). Tidak begitunya juga c, tapi tetap aja grogi klo ada yang tanya sudah bisa apa. Yaah jadi motivasi untuk pribadi agar lebih memfokuskan diri terhadap tujuan awal untuk apa ikut bergabung di kelas itu dan apa yang mau dicapai (hanya saya, panitia yang mengurusi formulir pendaftaran, dan Allah yang tau apa tujuan awal saya ikutan kelas itu. Walau sejalan waktu sepertinya tujuan sederhana itu pun mulai bergeser).

Setelah sekarang mulai dibuka lagi kelas angkatan baru, menjadi penambah semangat tersendiri buat belajar. So, selamat datang buat kalian. selamat menikmati proses belajar 日本語 di rumah cerdas .. :)


せんせい から,
Selain keberadaan kami sebagai peserta, kelas 日本語 ini pastinya masih ada karena semangat luar biasa dari para sensei yang tidak bosan menyemangati kami yang kadang sedang bosan (maafkaaann). Dengan segala kesibukannya yang masyaa Allah, tapi masih berusaha memfasilitasi proses belajar kami. Seperti saat kita harus belajar di halaman samping karena tidak kebagian ruangan, mencarikan sensei pengganti saat sensei yang biasanya berhalangan hadir (thx 4 mba Ocha yang sudah mau mengajari kita walau yang datang saat itu cuma 2 orang), sampai mengusulkan acara gathering untuk meningkatkan semangat kebersamaan. Cerita-cerita pengalaman para sensei saat menjalani kehidupan di Jepang juga menjadi hal yang menyenangkan untuk didengarkan.

Seperti visi dan misi yang di sampaikan saat awal pertemuan dalam kelas 日本語 ini, untuk mensyiarkan islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘aalamiin, agama yang memberi rahmat untuk semesta alam, termasuk Negara Jepang yang pada dasarnya sudah memiliki banyak budaya yang sangat baik dan sejalan dengan nilai islami. Tidak ada ruginya kita mempelajari bahasa mereka, dengan harapan suatu saat kita berkesempatan memberi sedikit warna jika sudah bisa berkomunikasi baik dengan bahasa mereka. Dan itu juga menjadi jawaban mengapa mengadakan kelas bahasa Jepang, bukan bahasa Arab.
Kalian luar biaasaaa… どうも ありがとう ございました。

Gathering kita
 はい, usulan acara tersebut disampaikan senseinya di bulan-bulan musim ujian sekolah. Itu artinya susah mendapatkan waktu yang pas. Hiksu. Berhubung sebagian peserta berstatus pelajar dan musim ujian adalah pesta belajar (yang semoga menggembirakan) untuk mereka ditengah ujian yang distandarisasi. Dengan menghitung kemungkinan keikutsertaan dan keluangan waktu sensei & peserta yang lain, maka disepakatilah 16 April 2017 sebagai waktu yang pas untuk merealisasikan ide tersebut (setelah mengganti beberapa kali waktu yang akan di sepakati, meskipun akhirnya ada saja yang harus terpaksa tidak ikut.. ごめなさい ..). Dengan tujuan curug Ciherang, Jonggol, kami melakukan perjalanan bersama pertama.

Pada acara tersebut juga dihadiri ust. Samsul, selaku kabid BPPN.

Beliau berpesan untuk belajar dengan baik, karena memanfaatkan kesempatan juga  merupakan bentuk rasa sukur kita terhadap karunia Allah. Dan tidak ada yang sia-sia dari proses belajar yang kita lakukan dengan serius, karena esok lusa itu bisa menjadi modal kita untuk lebih mengembangkan diri. Dengan  tekad menghasilkan output yang baik, diharapkan rumah cerdas DPD PKS kab.Bogor ini bisa menjadi model untuk DPD lain yang memiliki program yang sama.

Berhubung ketua panitianya kurang berpengalaman dalam berorganisasi dan berkegiatan, maka dimaklumi saja jika acaranya sangat minimalis atau dirasa kurang memuaskan. Tapi tidak mengurangi rasa terima kasih kepada peserta lain yang sudah menjalankan tugasnya masing-masing dengan sangat baik dan kepada senseinya yang bersedia membantu melengkapi segala hal yang kurang karena keterbatasan panitia yang masih amatir ini. ありがとう

 (Berbagi bekal dengan pengunjung lain).



Akhirnya demikian sedikit refleksi dari keberadaan kelas nihongo selama satu tahun ini. maaf tidak bisa merangkum semua hal yang sebenarnya ingin dituliskan, tapi yang pasti tulisan ini dibuat dengan penuh rasa syukur dan terima kasih atas keberadaan kelas bahasa Jepang yang tanpa terasa sudah berjalan selama satu tahun. Semoga masih berkelanjutan ketahun-tahun berikutnya sehingga bisa ada refleksi-refleksi yang lainnya. Semangat terus buat kita yang masih ingin belajar, semangat terus untuk senseinya agar bersedia mengajarkan… がんばってください


Keluar Dari Tempurung

Saya pernah merasa nyaman berada di dalam sebuah tempurung. Dengan penuh kesadaran bahwa saya hanya berkutat disana saja, tapi karena merasa semua yang saya butuhkan sudah ada didalam tempurung tersebut jadi tidak merasa ada masalah. Hubungan yang baik, rasa di butuhkan, menjaga keseimbangan, bahkan kadang ikut campur kehidupan orang yang ada di dalam tempurung yang sama juga dilakukan (hehe atas nama kebaikan pastinya, walau setelah dipikirkan sekarang mungkin atas nama dunia yang sesuai dengan kehendak saya walau tanpa terlalu memaksa pastinya karena ada peran menjaga keseimbangan juga). Bukan hal yang aneh juga saat kita saling membicarakan dunia paralel jika kita melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan sekarang, ya itu sebuah kesenangan tersendiri karena seperti yang kalian tau, kami berada di dalam tempurung dengan sebuah kesadaran. Jadi cukup dengan membicarakan sambil tertawa lepas tentang kata "jika..jika.." yang berkeliaran. Kami juga memberi ruang untuk "pikiran liar" tersebut. Apakah kalian punya banyak kesempatan untuk mengutarakan pikiran liar kalian di sembarang tempat tanpa kalian di lihat aneh? luar biasa sekali jika itu bisa dilakukan :D.  Dan dalam tempurung itulah sebagian hal yang tidak biasa bisa dilakukan. (Mau tau pikiran liar kami? baiklah buat kalian akan saya beritahukan. Salah satunya, "jika" kami punya sebuah pulau untuk membuat peradaban baru yang tidak terganggu dengan kekisruhan yang sekarang sedang terjadi.. apa? kurang liar?? haha kalian pikir kami manusia seliar apa yang bisa berpikiran liar. tapi itu sudah cukup liar buat saya :D)

Lalu sisi lain dari keberadaan tempurung itu adalah menjadikan saya seorang yang merasa superior. Dengan menjaga keseimbangan sekitar, dengan kondisi yang saat itu bisa sedikit banyak memfasilitasi agar keseimbangan didalamnya terjaga, itulah dunia yang saya ciptakan. Setelah semua berlalu, mereka bilang, "sepertinya cuma kamu saja yang tidak 'terbaca' ". Ya memang seperti itukan tempurung yang saya ciptakan. Tempurung tersebut adalah salah satu tempat saya menyimpan"beberapa butir telur", dan butiran telur saya simpan ditempat yang lain. Seperti telur yang berisi tangisan, ooh itu adalah benda berharga yang tidak bisa banyak orang melihat, dan seperti dibilang diawal, sosok superior itu jauh dari sisi melankolis kan :)

Sampai akhirnya saya mulai mencoba uji kenyataan. Hehe tenang, ini bukan tulisan serius. Maksud uji kenyatan di sini adalah saat saya mencoba melepas sedikit keseimbangan yang selama ini di jaga. Sebelumnya saat kita sedang baik-baik saja, kita bisa memperbincangkan keseimbangan itu sebagai obrolan ringan yang menarik. Kita bisa mengambil banyak langkah sejauh yang kita perkirakan. Satu yang terlupa saat didalam obrolan ringan itu adalah, kita tidak memasukan sisi kedalaman hati yang terlibat. Dan seperti yang sudah di prediksi (sesuai dengan perkiraan dari obrolan yang pernah kita lakukan), tempurung itu hancur menjadi kepingan. Terkejut? harusnya tidak, karena itu sudah pernah masuk dalam pembicaraan kita, namun tetap saja ada rasa kehilangan. Tempurung yang sudah tercipta dari sekian waktu lamanya itu sudah pernah memberi tempat yang nyaman, dan hal yang paling mengkhawatirkan diri adalah saat harus keluar dari zona nyaman tersebut kan?

Jujur hal tersebut sempat menjadi goncangan. karena waktu yang tercurah didalam sana sudah terlalu lama, lalu apa yang harus saya lakukan sekarang? membangun kepingan tempurung itu kembali? sepertinya tidak, karena seperti yang kita tau sesuatu yang pernah pecah, tidak akan bisa tersambung kembali seperti semula. Sepertinya juga ada hal-hal yang membatasi saat dengan komposisi sebelumnya dan saat tempurung itu pecah, bukan saja saya yang menghirup udara segar di luar tempurung tapi mereka pun bisa melakukan yang tidak pernah kita lakukan :)
Harusnya itu menjadi point yang bagus ya. Saat akhirnya saya bisa lebih memutuskan untuk keluar dari zona nyaman itu walau dengan tertatih dan usaha yang lebih pula (haha karena tidak banyak tempat yang bisa menerima keunikan, jadi orang-orang unik itulah yang harus banyak beradaptasi. Tidak buruk, selama tidak merubah diri menjadi orang lain, dan beradaptasi dengan lingkungan juga merupakan kemampuan yang harus diasah). Sekarang saya hinggap dimana-mana, melakukan kegiatan dangan orang-orang yang berbeda, dan yang terpenting ternyata saya bisa menikmati itu semua.

Akhirnya tempurung itu tidak pernah kita coba untuk susun kembali. Mungkin di lain kesempatan kita membuat perahu saja, yang bisa membawa ke tempat yang memang ingin kita kunjungi bersama, setelahnya kita tetap bisa melanjutkan perjalanan masing-masing. Biar saja perahu itu kita tambatkan di sudut hati. Kita bisa mengendarai bersama lagi saat memang kita menginginkannya.