Tuesday, March 22, 2016

Kisah Penghuni Sarang Memperjuangkan Cinta

"Hah, ternyata pagi ini ada janji kerumah Chi. Bagaimana baiknya ya?" Dalam kebingungan mencari alasan kepada ortu. Mau bohong, dosaku sudah banyak, tidak datang ketempat Chi, ketiga iblis jelek itu akan berubah menjadi monster menakutkan. Jadilah kebingungan menyelimuti pagi ini sampai akhirnya aku memutuskan pergi demi mereka. (Maaf ya mom)

"Kok lama banget datengnya, niat gak sih," sapaan khas Chi klo penyakit juteknya kambuh.
"Udah untung dateng, masih aja marah-marah. Eh, Ryu, Okawa dan Rei mana? Kenapa ekornya belum pada kelihatan?" Kataku santai,
"Belum datang. Katanya sih lagi nunggu pangeran kegelapan."
"Oh, tapi datang kan?"
"Pasti!"
Setelah menunggu lama, sampai tiga komik habis dilahap bersama cemilan setoples barulah mahluk- mahluk itu bermunculan. Yang menyebalkan, sudahlah datang telat Ryu malah langsung pergi bersama pangeran kegelapannya, Okawa, setelah setor muka seperkian detik. Kata mereka ada acara lain jadi gak bisa lama-lama. Secara spontan aja Rei marah-marah sampai tanduk iblisnya keluar. Klo aku sih cuma sedikit kesal karena tujuan utama mau salin tugas kimianya Chi, jadi dia lama atau sebentar sama aja.
" eh sorry ya, gua mesti buru-buru, mau pergi sama Okawa. Sorry yah!"
Rei jawab "ga bisa gitu dong. Elo kan janji duluan sama kita, kok jadi pergi sama mahluk gelap itu. Ga seru nih."
"Habis mau gimana lagi, habis Okawa memang lebih penting dibanding kalian," jawab Ryu sekenanya sambil menyambar tasnya yang tergeletak di sofa.
"Ya udah klo gitu pergi aja dan gak usah ketemu lagi sama kita klo menurut lo kita ga penting," balas Rei emosi.
"Ya udah tadi dah diusir jadi gua pergi nih"
"Sana, merusak pemandangan aja!"

Suasana menjadi aneh. Mereka berdua bertengkar seperti suara tabrakan antar bus dan tanki minyak yang menyebabkan ledakan dahsyat. Ya rame gitu deh. Tapi keadaannya memang gawat banget sepertinya. Semua ini emang salah Ryu yang gak adil sama kita. Tapi respon Reina yang terlalu serius itu juga membuat keadaan semakin kacau. Yah, jadi sama-sama salah gak ada yang bener. Mana Chi cuma ketawa-ketawa aja tidak melerai atau setidaknya ambil es buat mendinginkan kepala mereka sepertinya lebih membantu.

Akhirnya Ryu pergi dengan Okawa. Tapi sebenarnya kita gak marah sama Ryu. Kita malah membahas hubungan Ryu dengan Okawa. Setelah pertemuan kacau itu berakhir, dirumah aku berfikir kenapa mereka gak bisa dingin sedikit. Mereka sama-sama emosional dan gak tau diri. Saat sedang asik memikirkan kelakuan aneh para sahabatku itu, suara handphone yang seperti suara jangkrik berbunyi,
"Hallo, siapa nih?"
"Ini Nami ya?"
"Iya dengan saya sendiri. Ini siapa?"
"Kenalan boleh gak?"
"Kan sudahh tau namaku, kok pake kenalan segala. Harusnya aku yang nanya kamu siapa? Gimana sih?"
"Kok jadi emosi... tenang... tenang... namaku Imura, salam kenal ya"
"Oke Imura, jadi kamu siapa? Kok tau nomer hape ku?"
"Aku penggemar rahasiamu."
Seperti itulah. Tiba-tiba ada yang telpon dan mengajak kenalan. Dari percakapannya sepertinya dia orang yang menyenangkan. Setelah didesak bercerita, ternyata Imura adalah teman kakakku di tempat magang. Saat hatiku rasanya seperti dikolam renang dengan hamparan mawar segar,  terganggu dengan deringan hape kembali.
"Hallo Manami, ini aku Chika,"
" iyaaa, tanpa dikasih tau pun aku sudah hafal suaramu yang seperti kuda kehausan itu. Siapa lagi yang punya selain dirimu."
"Enak aja suaraku disamakan dengan suara kuda."
"Baru sadar ya," kataku sambil terbahak.
Chika meneleponku hanya untuk mengabarkan bahwa Ryu menyesal dengan perbuatannya siang tadi dan sudah minta maaf juga sama Reina. Tapi Ryu malah bertengkar dengan Okawa karena mereka menonton bola AC Milan vs Inter milan yg memang favorit mereka. Jadilah Ryu vs Okawa. Hanya karena inter kalah 0-1 mereka jadi bertengkar. Ya sudah biasa sebenarnya melihat mereka bertengkar. Hanya karena sepotong ikan asin saja kadang mereka akan bertengkar.
Akhirnya pekan berikutnya kami janjian buat ketemuan. Karena aku juga ada janji dengan Imura ditaman, mereka kuajak serta sekalian. Karena aku takut jika Imura tidak seperti yang aku bayangkan. Akhirnya kami datang ke taman. Imura bilang dia akan memakai baju berwarna hijau, sedangkan aku pakai baju putih bergambar apel.
"Mana yak Imura, dari tadi banyak sekali pria berpakaian hijau." Gerutuku sambil celingak-celinguk.
"Hai Manami,"
Seorang pria tampan mendatangiku. Wajahnya mirip Mamoru, pacar pertamaku yang aku putusin karena aku dijadikan pacar ke7. Bagaimana gak kesel. Tapi Imura lebih manis. Singkat cerita, setelah pertemuan itu aku jadian dengan Imura, nenek sihir Reina naksir teman Imura yang seperti playboy kampungan kelas teri. Chika sih cukup dengan si mata empat Rin dan hantu jelek Ryu tetap dengan iblis kampungan Okawa. Jadilah empat sekawan melepas jomblo.

Pagi ini tanggal 7 Februari, seminggu lagi hari istimewa penghuni sarang tiba. Bukan perayaan Valentine seperti kebanyakan remaja, tapi kami memperingati awal jumpa penghuni sarang. Setiap tanggal itu akhirnya disepakati untuk diadakan pesta untuk mengokohkan persahabatan kami. Aku dan ketiga sahabatku itu berencana pergi ke cafe cake dekat sekolah. Dua minggu terakhir ini aku bertengkar dengan Imura, ketiga temanku pun mengalami nasib serupa. Chi ditinggal pacarnya sekolah keluar negeri, Ryu marahan dengan Okawa karena Okawa mengungkit masalalu Ryu dengan mantannya. Kalau Reina tidal aneh lagi, kali ini Reina menyukai sahabat kekasihnya, Aoyama, yang bernama Akira. Memang sih Akira lebih tampan dibanding Aoyama, tapi Reina tidak kalah bejadnya dengan kelakuan playboy Aoyama.
"Kita kok jadi kesepian gini ya."
"Iya nih. Ini sih gak adil buat kita,"
"Eh Chi, gimana kabarnya Rin?"
"Di belum kasih kabar lagi sejak berangkat. Jadi aku gak tau gimana kabarnya," kata Chi dengan tampang seperti anak kucing yang kehujanan. "Kalau kamu Nami?"
"Imura masih marah sama aku."
"Klo Okawa sih gak akan aku maafin. Habisnya memang dia yang salah. Eh Rei, acara besok kau pergi ama siapa? Aoyama atau akira?" Kata Ryu
"Kayaknya sih gak sama keduanya" kata Reina galau.
"Kenapa?" ujar kami barengan,
"Habisnya Aoyama playboy, sedangkan Akira ternyata sudah punya pacar yang menyebalkannya lebih cantik dariku. Pasti Akira lebih pilih bersama pacarnya."

Begitulah, kami merasa putus asa saat kehilangan kekasih, tapi mau gimana lagi, kesalahan ada pada mereka, walau begitu secara diam-diam kami masih memperhatikan pasangan kami masing-masing. Tidak seperti Chika yang tidak akan bisa liat Rin kalau orangnya tidak mau balik.

Kisah Chika.
Di era digital, tiba-tiba ada pak pos mengantarkan surat yang isinya: "hai Chi, sorry aku gak bisa pulang liburan ini. Maaf sepertinya kita tidak bisa merayakan hari jadi sarang kalian. Kamu pergi saja dengan teman-temanmu. Sekali lagi maaf ya.. Beaurin

Kisah Ryu.
Ada telepon masuk "maaf ya Ryu, buat pesta besok kita tidak bisa merayakannya bersama."
"Kenapa?"
"Aku harus pergi dengan ortu."
"Mm. Oke"

Kisah Reina
Ada tamu. "Rei, kamu pergi kepesta dengan temanmu yang lain saja ya."
"Kenapa tiba-tiba?"
"Adikku dirawat. Ini aku akan segera ke RS sekarang"
"Hati-hati ya"

Kisahku.
Pagi ini aku terbangun karena panggilan ibu dari dapur. Setelah cuci muka, aku kedapur.
"Narai kecil,"
"Apa sih ibu. Kok manggilnya seperti nenek saja."
"Iya, kamu tidak ingat kalau besok kita akan ke rumah nenek di Hokkaido. Karena semalam paman Shin telepon mengabarkan nenek sakit, makanya kita semua akan kesana menjenguk nenek"
"Looh. Bukannya rencana kita masih  dua minggu lagi kita mudiknya. Kenapa jadi besok?" Protesku sembari membayangkan hancurnya rencana pesta bersama penghuni sarang.
"Ayah dapat cutinya mulai besok selama 5hari, kakak juga libur kan selama seminggu ini. Jadi kita berangkatnya besok saja." Kata ibu. "Apa kamu tidak mengkhawatirkan nenek?"
"Tapi bu.."
"Sudah cepat sana berangkat sekolah, nanti telat," kata ibu tanpa mau mendengarkan alasanku.

Sampai di sekolah suasana terasa tidak nyaman karena ketiga temanku membicarakan kekasihnya dan rencana pesta besok.
"Nami, baju apa yang akan kamu pakai besok di pesta kita?" Tanya Rei.
"Hooii..." teriak Ryu sambil menyenggol bahuku karena tidak merespon pertanyaan Rei.
"Ada apa sih? Tumben kamu bengong gitu. Kemarin kan kamu yang paling semangat dengan acara kita besok," tanya Chi penasaran melihat gelagatku yang tidak biasa.
"Sebenarnya besok aku harus ke Hokaido. Kerumah nenekku," jelasku.
Mereka hanya bisa diam sambil menatapku. 

Akhirnya kami sekeluarga berangkat ke Hokkaido. Pemandangan yang indah membuatku melupakan rasa sedih karena tidak bisa ikut pesta dengan teman-teman.
"Nami, bukannya hari ini geng kamu mengadakan pesta ya? Apa rasanya berada disini sedangkan yang lain berkumpul sambil bersenang-senang?" Tanya kakakku yang terdengar mengejek.
"Kakak kok bicara begitu, kan Hokkaido indah, kenapa harus rusak karena aku tidak jadi pergi pesta?" Jawabku.
"Kita adakan pesta disini saja. Pasti akan seru walau tanpa anggota geng kamu yang cerewet-cerewet itu"
"Huh, biar cerewet begitu mereka temanku. Dan suasana pesta akan hambar tanpa adanya mereka." Belaku.
"Pasti tidak hambar," yakin kakakku.
Fuh, aku tidak mengerti cara berpikir kakak. Setelah merasakan udara semakin dingin, aku beranjak dari teras samping menuju dapur. Secangkir coklat panas mungkin bisa membantu menghangatkan tubuh dan menenangkan pikiran, batinku.
"Hehehe...sudah selesai bertapa di teras sampingnya Nami?" Tiba-tiba suara cempreng Chi menegurku.
"Loohhh, kenapa kalian ada disini? Sedang apa kailan?"
"Bilang saja kamu senang kami ada disini. Kami memutuskan pesta dipindah tempatkan menjadi di rumah nenekmu ini. Sekalian kami menjenguk beliau. Sepertinya nenek sehat-sehat saja," kata Ryu sambil tersenyum kepada neneknya Nami.
"Kami diundang oleh orangtuamu, jadi kami menyusul untuk memberikan kejutan. Anggap saja ini hadiah pesta kita untukmu. Oiya, ada salam dari Imura, dia tidak bisa datang karena sakit typus."
"Baiklah, tanpa satu orang itu, jangan membuat pesta kita berantakan. Aku sudah senang karena ada kalian semua," ujarku seraya menyembunyikan sedikit rasa kecewa karena ketidakhadiran Imura.
Ya, memang aku senang sekali dengan kehadiran mereka yang sudah jauh-jauh datang ke Hokkaido. Semua hadir dari ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, dan mereka teman-temanku. Walaupun sebenarnya didasar hati masih tidak lengkap karena Imura tidak ada. Padahal harapan terbesarku adalah melewati hari ini dengan dia.
"Manami,"
Aku menoleh kesumber suara, "Imura, kenapa ada disini? Bukannya kamu sedang sakit?" Kataku terkejut sekaligus senang.
"Iya. Sebenarnya aku sedang sakit. Tapi apapun akan aku lakukan untuk bisa datang kesini. Karena aku rindu padamu Nami. Maafkan semua salahku ya.."
"Tidak, yang salah kan aku.."
"Kalau aku bukan pacarmu, aku pasti marah. Tapi karena melihat rasa cemburu kamu itu, aku yakin jika kamu sangat menyayangiku. Betulkan?"
"Iya" jawabku singkat sambil tersipu malu.

Itulah akhir cerita. Eh, sampai lupa cerita Beaurin dan Okawa.
Ternyata Beaurin memutuskan untuk kembali ke Jepang. Ya, belajar di sini tidak kalah bagus dengan di Prancis. Sebenarnya aku tau maksudnya, dia kembali karena tidak sanggup berpisah dengan Chika.
Okawa sudah minta maaf secara mati-matian ke Ryu. Ryu yang punya sifat pendendam itu ternyata kalau sudah dirayu perasaannya bisa lunak. Apalagi jika mendapat gombalan maut ala Okawa.
Sedangkan Reina memilih menghabiskan waktu so Hokkaido bersama Toshi. Siapa Toshi? Hehehe dia adalah tetangga Nami di Hokkaido yang kebetulan bertemu saat pertama datang mencari alamat rumah neneknya Nami. "Daripada mikirin orang yang tidak jelas," katanya sambil mengedipkan sebelah mata.

Pict: archi meidy by animonsuta

TAMAT
note: tulisan Nami tahun 2004. Iseng2 aja di dokumentasikan disini. Setting tempat setelah di telusuri dari kerapuhan benang ingatan, pasti karena jaman itu kita lagi baca "imadoki".

Monday, February 29, 2016

Musim hujan jangan jadi mati gaya kalo punya barang-barang bekas ini

Beberapa hari terakhir hujan turun sepanjang hari. Buat yang tidak punya kerjaan terikat secara rutin waktu, biasanya akan mati gaya dirumah. Mau keluar hujan, mau beres-beres rumah hawa dingin membuat malas, ujungnya ngemil sambil seruput teh panas jadi pilihan atau tarik selimut lebih sering. Hohoo tidak produktif sekali waktu kita ya. 

Untuk mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat, bisa juga kita melihat-lihat barang dirumah yang sudah lama tidak dipakai atau sebagian sudah dipakai. Seperti halnya hari ini, saya menemukan banyak kertas di lemari buku. Ternyata buku tulis yang sudah tidak dipakai banyak yang masih kosong. Ada juga kertas bergambar bekas kalender. Dulu sih karena gambarnya menarik, sayang dibuang jadilah teronggok di lemari buku. Atau ada lagi kertas bekas label yang cukup banyak tersimpan. Melihat kertas-kertas itu jadilah ide untuk memanfaatkannya. Begitulah, dari kertas-kertas itu saya berkreasi. 

Barang temuan:
- buku tulis yang sudah tidak dipakai tapi masih ada lembaran yang belum diisi,
- cover kalender,
- kertas bekas label,
-kertas putih licin bekas sekat barang,
- papan palstik bekas alas barang,
- tali rafia,

Barang pendukung:
-gunting
-lakban
-pembolong kertas

Hasil 1: buku tulis baru
Kumpulkan kertas dari buku tulis yang belum terisi. Bolongkan sisi kiri kertas secara berjajar menggunakan pembolong kertas. Lakukan kepada semua kertas yang sudah disiapkan. Perhatikan posisi bolongan antara kertas yang satu dengan yang lain harus sama. Tumpuk menjadi satu, lalu jalin menggunakan tali rafia menggunakan tusuk feston (hehehe klo tidak salah).


Hasil 2: notes
Kertas bekas label yang berwarna kuning ditumpuk menjadi satu. Lubangi semua kertas tersebut. Posisikan bagian belakangnya (yg kasar) disebelah depan, agar bisa digunakan untuk menulis (bagian depan kertas label biasanya licin&tidak bisa digunakan menulis). Simpan kertas bergambar bekas kalender dibagian paling depan dan belakang, jadikan sebagai cover notes yang akan kita buat. Jalin menggunakan tali rafia.


Hasil 3: papan tulis mini
Tumpuk papan plastik dengan kertas putih licin. Rekatkan menggunakan lakban. Lubangi bagian atasnya untuk diberi tali rafia sebagai gantungan.


Begitulah, barang-barang yang tadinya sudah tidak berguna atau tidak digunakan, bisa menjadi barang baru dengan sedikit kreatifitas. Dan yang pasti tidak mati gaya dirumah saat musim hujan seperti ini.

Silakan gunakan barang-barang lain yang ada dirumah. Selamat mencoba.. :D

Saturday, February 27, 2016

Masalah Kantong Plastik Berbayar Sudah Tidak Menjadi Soal Karena Ada Ini

Akhirnya tergoda juga untuk menulis tentang kantong plastik setelah melihat tulisan-tulisan pendahulu berkeliaran dimana-mana. Setengah survey dan sedikit pembuktian terhadap ramainya masalah kantong plastik ini. Jadilah saya memutuskan untuk belanja di beberapa tempat untuk merasakan sendiri sensasi bawa tas kain dari rumah atau beli plastik yang seharga 200 rupiah itu.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah toko alat tulis di jalan raya Jakarta-Bogor. Niatnya mau beli papan tulis, tapi karena mahal urung niat berganti beli buku. Sampai kasir, kasir melihat barcode dibarang yang saya beli, sebutkan harga, saya bayar dan selesailah transaksi dengan penutupnya barang saya dimasukan kedalam plastik. Iseng, saya cek struk pembelian dan harga bandrol barang yang saya beli. Sama. Artinya free kantong plastik (biarlah kepusingan itu plastik sudah masuk harga jual dari barang yang saya beli atau tidak, dirasakan oleh bagian yang buat harga saja. Yang penting saya tidak merasa membeli kantong tersebut karena saya membayar sesuai bandrol harga barang yang saya beli).

Tempat kedua adalah mall disamping pasar Cibinong. Lihat-lihat barang, ada yang menarik, singkat cerita saya sudah berada didepan kasa pembayaran. Kasir hanya menanyakan kartu member, kemudian lanjut transaksi dan berpindahlah uang saya kedalam mesin kasir berganti barang yang saya beli yang berada didalam kantong berlogo mall tersebut.

Tempat ketiga yang saya kunjungi, adalah *mart disamping gang rumah. Seperti sebelumnya, pilih barang, antri dikasir dan bertransaksi. Saya lihat ada dijual tas belanja seharga 9000 di atas meja kasir tersebut. Tapi penjaganya tidak menawarkan dan saya membayar sesuai tag harga di rak kemudian barang tersebut dimasukan ke kantong plastik. Klo yang ini, secara saya sudah membawa tas kain dari rumah dan akan terasa sia-sia jika tidak ikut diet kantong plasik, jadilah menolak plasik yang sudah disiapkan dan memakai jinjingan yang sudah sedari awal belum beraksi tersebut.

Begitulah perjalanan belanja saya hari ini. Dari ketiga tempat itu saya mendapat tiga kantong plastik secara gratis. Padahal untuk keren-kerenan, saya sudah sedia tas kain untuk membawa belanjaan dan berharap ditanya sama kasir "bawa tempat sendiri atau mau beli kantong plastik seharga 200 rupiah mba?". Dan saya tanpa menolak kebijakan membeli kantong plastik seharga 200 rupiah itu, akan menyodorkan tas kain saya sambil tersenyum. Ternyata belum berkesempatan melakukan hal tersebut, mungkin besok saya harus membawa tas kain dengan niat bukan untuk keren-kerenan, biar ditanya mba kasir :D

Jadi teringat jaman emak saya muda yang kepasar selalu membawa keranjang. Waktu itu sepertinya kantong plastik sudah ada, tapi generasi tersebut masih setia membawa keranjang belanjanya. Mungkin hal seperti itu bisa kita budayakan kembali. Biar lebih keren, sekarang jamannya tas kain/ DIY(saya lupa kepanjangannya apa, yang pasti bukan Daerah Istimewa Yogyakarta). Tapi konsepnya sama, menggunakan alat bantu yang lebih awet, bisa dipakai berulang-ulang dan enak dipandang. Selamat mencoba.. :D

Pict: tas kain oleh-oleh kunjungan batik Madura di Pamekasan bersama KIBAS (Komunitas Batik Jawa Timur)

Saturday, February 20, 2016

Resep Gemblong Cihui

Bahan:
-tepung ketan 1/2 kg
-kelapa 1/2 potong, diparut
-garam
-minyak goreng
-gula merah 2,5butir
-gula putih 1/8kg

Cara membuat:
Langkah 1
-aduk tepung ketan dengan air panas. Tambahkan kelapa parut, garam. Aduk hingga kalis.
-bentuk sesuai selera.

- panaskan minyak di wajan, masukan adonan yang sudah di bentuk. Goreng hingga berwarna keemasan.

Langkah 2
-panaskan gula merah & gula putih. Beri sedikit air. Aduk rata hingga mengental.


Langkah 3
Masukan adonan yang sudah digoreng kedalam cairan gula kental, aduk sampai gula menempel. Tunggu gula kering.


Note: abaikan gambar soto disamping adonan yang sedang dibuat :D.
Hati-hati saat menggoreng adonan, kadang suka meletup.

Monday, December 28, 2015

Ingat-Ingat Pesan Nenek

Klo tidak salah ingat, jaman saya kecil ada lagu anak yang salah satu liriknya "ingat-ingat pesan mama..", eh setelah saya coba tulis ternyata pesan mama yaa, bukan pesan nenek (tidak apa-apalah, biar judulnya tidak melanggar hak cipta :D)

Perjalanan liburan kemarin tertuju kerumah saudara untuk silaturohim, maka jadilah banyak bertemu saudara-saudara beberapa generasi baik atas maupun bawah. Dari keluarga kakek(generasi 1) yang memiliki tujuh orang anak (generasi 2) yang sudah beranak (generasi 3) pinak (generasi 4), banyak obrolan yang tertuang didalam silaturohim tersebut. Karena jarang bertemu, akhirnya tema masalalu menjadi efektif sebagai bahan pembuka perbincangan.

Saya sebagai generasi 3 sebagai cucu, masih merasakan banyak pelajaran yang didapat dari generasi atas. Begitu pula para sepupu (satu generasi dengan saya berarti) sabagai tuan rumah yang dikunjungi pada kesempatan ini merasakan hal yang sama dengan saya.

Nenek kami meninggal tahun 2008. Ditahun itu, usia kami sudah cukup remaja hingga bisa menyerap informasi dari sekitar. Di usia senjanya, dalam banyak kesempatan  nenek menasehati kami para cucu untuk menjada silaturohim. Seperti yang beliau sampaikan kepada saya, untuk selalu berkunjung kerumahnya dan saudara lain. Ternyata tidak kepada saya saja pesan senada di sampaikan. Kepada sepupu, beliau berpesan jangan hanya berkunjung kerumah nenek tapi juga kunjungi rumah uwa(kakak dari orang tua) dan bibi (adik dari orang tua).

Saat itu kami hanya iya-iya saja karena belum terlalu faham, jika berlibur ya sama dengan kerumah nenek. Tanpa kami ngider, saudara lain akan langsung datang jika tau kami datang. Dan ternyata pesan tersebut baru terasa maknanya saat ini. Saat beliau sudah tidak ada. Kebiasaan keluarga besar dulu mulai luntur. Rumah utama yang dulu sebagai rumah penampung anak-cucu dari nenek sudah sunyi.

Ingat-ingat pesan nenek.
Untuk selalu silaturohim, menjaga hubungan dengan saudara, berkunjung kerumah mereka. Hal tersebut mulai terasa dibutuhkan saat sekarang ini. Disaat generasi penghubung itu satu demi satu mulai pergi.